Mana Segmentasi Untuk Si Kecil?

Beberapa bulan yang lalu, saya, Parara sama Riadi ngobrol di kamar, mengenang masa kecil. Semua ini dimulai ketika Parara liat foto jaman SMP-nya Riadi yang notabene culun abis. Riadi di foto gendut, terus mukanya masih polos, muka-yang-dikasih-permen-cokelat-pasti-mau.

Terus obrolan berlanjut ke masalah bacaan masa kecil. Kami bertiga ternyata sama-sama pelanggan majalah Bobo waktu masih imut, ini dia nih penampakannya:

teman bermain dan belajar, B-O-B-O, Bobo!

Jaman dulu SD rasanya ga resep banget dah kalo dalam sebulan belom baca Bona dan Rongrong, Oki dan Nirmala, oooh saya kangen banget sama mereka. Belum lagi rubrik-rubrik yang memuat berbagai info unik yang mendidik. Fenomena unik yang jadi sorotan kami bertiga adalah bahwa dalam beberapa tahun terakhir, segmentasi majalah anak-anak sudah digerus oleh majalah mode dan gosip sampah.

Pertanyaan pertama : anak-anak zaman sekarang baca apaan?

Oke sekedar meluruskan bahwa majalah Bobo tidak benar-benar punah, Bobo masih eksis kok sampai 2012 dan pembacanya masih rame. Yang saya permasalahkan adalah munculnya berbagai media bacaan yang sebenarnya tidak layak untuk dibaca oleh anak kecil tetapi selalu ada di rak majalah dimana-mana. Ini karena segmentasi majalah untuk anak kecil yaaaa mungkin tinggal Bobo doang (yang paling beken)

Kemana budi baik yang diajarkan majalah-majalah anak? Kemana Bona dan Rongrong, Oki dan Nirmala dan tokoh khayalan lain yang membuat kami terhibur dan terseret dalam dunia khayalan yang sederhana? Kenapa di rumpun majalah malah semakin menjamur majalah mode dan gosip? Apa ini maksudnya bahwa anak kecil juga harus menjadi korban dari selera pasar yang semakin lama semakin sampah dan menggerus segmentasi majalah anak-anak?

Rentetan pertanyaan ini menuntun kami kepada pertanyaan kedua, yang kami anggap juga menjadi salah satu alasan mengapa degradasi moral anak kecil semakin parah.

Pertanyaan kedua : kemana lagu-lagu anak yang dulu kami dengar?

Ini yang paling memperihatinkan sekarang. Keponakan saya kemarin beli DVD lagu anak-anak (dia hobi banget nyanyi) dan ternyata isi lagunya yaa engga ada bedanya sama lagu zaman saya. Engga ada yang baru, Desaku, Bermain Layang-Layang, ya ampun itu mah dari kapan tau juga udah ada.

Tahun 2012 dan industri musik anak-anak sudah mengalami stagnansi selama hampir lebih dari 20 tahun!

Men, apa ga ada lagi produser yang mau mengorbitkan artis-artis cilik seperti kami dulu? (baca:Chikita Meidy, Joshua, Trio Kwek Kwek, Maissy dll) Idola anak kecil sekarang udah kelewat keren, bahkan menjurus alay.

Saya punya tetangga umurnya yaa sekitar SD lah, dan dia sejak kecil dengernya lagu-lagu pop, macamnya Peterpan, Ada Band, D'Masip, yaa sejenis itu lah ya (ga hafal saya, beneran deh) Dalam benak saya: what the?? 

Anak kecil sama sekali belum perlu denger lagu cinta-cintaan, lagu jazz, lagu rock dan lain-lain. Lagu anak itu sederhana, mudah didengar, tidak mengandung unsur merusak, dan memiliki nilai yang nyata. Bukan tentang wanita, cinta, selingkuh apalagi alamat palsu.

Anak kecil tetap memerlukan imaji dunia dongeng karena ada budi baik di dalamnya. Anak kecil tidak butuh FTV cinta-cintaan menye-menye yang menuntun mereka pada imajinasi dunia dewasa. Anak kecil tidak butuh majalah mode, tren, gosip

Semua ada masanya, dan di awal tahun 2012 ini saya semakin prihatin karena untuk hal apapun, segmentasi untuk anak kecil kurang diperhatikan.

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)