(Mungkin) Inilah Generasi Baru Pengamen Indonesia!

Saya hobi banget nonton pengamen di stasiun Bogor. Karena mereka memang benar-benar main musik. Alat musiknya juga niat, tidak cuma gitar seperti pengamen kebanyakan. Kadang ada yang bawa biola, harmonika, akordion, bahkan bas! Sama yang main aja gedean basnya, kurang niat apa mereka? 

Skill juga oke, kadang main lagu Indonesia, kalo lagi ada bule di gerbong mereka kadang mainin lagu barat tahun 80-an macamnya Have I Told You Lately-nya Rod Stewart atau Yesterday-nya The Beattles. Kadang lagi main lagu-lagu dengan irama melayu, wuuh pokoknya perbendaharaan lagu mereka kaya banget.

Tadpi ada fenomena baru di stasiun Bogor sekarang. 25 Februari 2012 kemarin saya menemukan beberapa pengamen yang melawak! Bukan stand-up sih, tapi semacam regu lawak kayak OVJ gitu, plus musikal di tengah-tengah cerita mereka. Berikut ini beberapa gambarnya: 
ini adalah abang-abang pencipta backsound. kalo lagi punchline, harmonikanya dimainin

yang kiri (baju putih) jadi narator yang kanan (baju item) jadi orang tajir

baju ijo sarungan jadi preman, munculnya nyanyi dulu udah kayak sherina dan saddam

kanan (pake rok SMP) jadi anak SMP kelebihan hormon, anaknya orang kaya baju item
Overall, mereka tampil oke. At least sebagai seorang pengamen terus mencoba melawak yaa not bad lah ya. Yang bikin tambah kocak adalah mereka bisa improvisasi sama orang-orang yang lalu-lalang di gerbong. Ada ibu-ibu gendut lewat diakuin jadi emaknya, ada anak SMP tidak berdosa tau-tau digeret, kacau emang. 

Ceritanya juga lumayan loh, beneran deh. Jadi intinya si anak SMP itu mau diculik sama preman, soalnya si preman engga punya kerjaan. Alhasil si preman minta tebusan beras, cabe sama tomat sama bapaknya (bego abis scriptnya) Terus ketemulah mereka, eh ternyata si preman kenal sama bapaknya itu anak. 

Bapaknya anak SMP itu kemudian nasehatin temennya (si preman) supaya jangan jadi preman lagi, dengan menggunakan refleksi si abang-abang pembuat backsound sambil bilang, "Tuh coba liat die, ngamen doang bisa makan. Ngapain lu jadi preman?"  Si abang-abang pembuat backsound langsung mainin gitar dan nyanyi Yesterday-nya Beattles, beeeh. 

Makna kata-katanya kalo kita kaji sebenernya dalem juga, mengutuk segala macam premanisme di Indonesia. Termasuk premanisme di kalangan elit yang merugikan negara bertriliun-triliun rupiah. Mereka, sadar ataupun tidak sadar, berhasil membungkus pesan itu dalam performance mereka. 

Kalau selama ini kita ketahui bahwa pengamen hanya gonjrang-ganjreng main gitar nyanyi-nyanyi, maka jenis pengamen yang saya temukan di stasiun Bogor kemarin (mungkin) adalah generasi baru pengamen Indonesia! 

Tetaplah berkarya, bung! 

POSTED IN ,
DISCUSSION 0 Comments

Bogor Kala Berkabut

Kabut tebal jarang banget turun di Bogor. Tapi kemarin, tanggal 25 Februari 2012, kabut turun dengan intensitas yang cukup mengesankan. Berikut adalah beberapa gambar yang diambil di sekitar kompleks asrama: 

dari samping asrama C3 ke arah barat (hutan samping C2)

turut menghiasi jemuran C3

semakin menambah kemelankolisan pagi hari ckckck
Tambahan, foto-foto ini diambil kira-kira jam 7 lewat sedikit, jadi sebenernya sekitar jam 5 itu kabutnya jauh lebih tebal daripada ini. Katanya seorang temen yang domisili Bogor asli sih dulu kabut sebenernya rutin turun setiap pagi di sekitar Bogor. Tapi beberapa tahun terakhir, kabut tebal kayak gini lumayan jarang kelihatan. Sering hujan dan sering turun kabut, Bogor memang romantis. 

Duhai Yang Menurunkan Segalanya, tolong tetap turunkan kabut di bumi kampus saya ya :)

POSTED IN
DISCUSSION 2 Comments

Psikologi Commuter Line


Saya suka naik kereta
Ralat: Saya hobi naik kereta
Ralat(lagi): Lokasi kuliah saya mengharuskan saya untuk naik kereta dan saya menikmatinya 

Semenjak kuliah di IPB, frekuensi naik KRL saya semakin bertambah. Drastis. Dari sebelumnya naik kereta cuma buat ke Universitas Indonesia buat hadir di beberapa acara, sekarang malah hampir setiap minggu naik KRL bolak-balik dari kampus ke rumah. Ini juga karena kemarin masih semester pertama jadi masih sering bolak-balik, setelah semester dua mungkin frekuensi naik KRL saya berkurang lagi.

Sebenarnya kalo berangkat dari Jakarta ke Bogor, moda transportasinya engga cuma kereta doang, masih ada omprengan dari UKI ke Baranangsiang (via tol), bis-roti-tawar dari Kp. Rambutan ke Baranangsiang (via Raya Bogor), bisa juga naik pesawat dari Halim turunnya di Atang Sandjaja *ngaco

Yang paling asik dari naik Commuter Line adalah karena banyak sekali jenis manusia yang ada di dalamnya. Banyakya jenis manusia saya dapat dari hobi saya memerhatikan orang-orang. Di Commuter Line hobi saya yang satu ini sempurna difasilitasi. Tujuan saya memerhatikan orang adalah mengetahui bagaimana pribadinya dan apa yang mau dia lakukan setelah turun dari kereta

Yang paling saya perhatikan biasanya ada tiga hal: pakaian, barang bawaan dan perilaku, eh tapi ada satu hal lagi yang biasanya saya perhatikan, (mungkin ini sedikit rada aneh) yakni stasiun tempat seseorang naik dan turun.

Pakaian? Barang bawaan? Perilaku? Stasiun? -____- WE NEED EXPLAINATION!

Pakaian dan barang bawaan: ini sih standar ya kalau menurut saya. Maksudnya identitas seseorang cukup tercermin dari dua hal ini, bahkan hal yang lebih kompleks bisa dianalisis dari dua hal ini.

Contoh : kalau di kereta pada saat pulang jam kerja ada laki-laki pake jaket motor dan bawa helm, maka ada kemungkinan rumahnya masih jauh dari stasiun tujuannya. Mungkin stasiun tujuannya di Citayam, tapi rumahnya di daerah Parung. Tapi kalau kita rubah sedikit datanya, misalkan di saat pulang jam kerja ada perempuan memakai setelan kantor dan hanya membawa helm, maka kemungkinan besar perempuan itu selalu diantar-jemput oleh seseorang di stasiun pada saat pulang. Atau justru helm itu dipakai di tempat kerja untuk nebeng ke stasiun tempat dia naik kereta pulang.

Bingung? Santai aja, saya juga kok.

Perilaku: ini sebenarnya paling sulit diobservasi saat jam pulang kantor. Kenapa? Karena kereta dalam keadaan sangat penuh dan perilaku penumpang saat kereta penuh semuanya nyaris 100% sama: pegangan pada handle di tiang atas, biasanya lengkap dengan mata terkantuk.

Tapi bukan berarti tidak ada hal yang bisa dipelajari. Contohnya adalah cara dia membawa barang bawaan. Biasanya kalau orang naik kereta, tasnya digemblok ke depan, supaya aman dari incaran maling. Perhatikan gerak tangannya. Ada beberapa orang yang sebelah tangannya memegang pegangan atas kereta dan sebelahnya lagi sibuk meraba resleting tasnya. Maksud dia meraba resleting tas mungkin supaya tidak ada calon maling yang bisa membuka resletingnya. Orang yang kayak gini biasanya a little bit over protective.

Stasiun: ini unik, tapi tidak pasti dan susah ditebak. Stasiun tempat orang naik menggambarkan apa yang dia lakukan sebelum naik kereta sedangkan stasiun turun menggambarkan apa yang akan dia lakukan setelah naik kereta. Umumnya orang yang baru pulang kerja mayoritas turun di range antara Depok-Bogor. Orang yang pada saat weekend membawa keluarganya dari arah Jakarta pasti akan turun antara stasiun Citayam-Bogor (biasanya banyak saudara-saudara mereka di daerah ini). Yang bermuka mahasiswa biasanya turun atau naik di Universitas Indonesia atau Pondok Cina. Orang yang tidurnya sangatsangat lelap dapat dipastikan turunnya di stasiun Bogor. Sisanya sulit ditebak.

*penulis tidak bermaksud menggurui masalah psikologi karena bukan bidangnya, ini hanya berdasarkan tebakan dan pengalaman saja

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Mana Segmentasi Untuk Si Kecil?

Beberapa bulan yang lalu, saya, Parara sama Riadi ngobrol di kamar, mengenang masa kecil. Semua ini dimulai ketika Parara liat foto jaman SMP-nya Riadi yang notabene culun abis. Riadi di foto gendut, terus mukanya masih polos, muka-yang-dikasih-permen-cokelat-pasti-mau.

Terus obrolan berlanjut ke masalah bacaan masa kecil. Kami bertiga ternyata sama-sama pelanggan majalah Bobo waktu masih imut, ini dia nih penampakannya:

teman bermain dan belajar, B-O-B-O, Bobo!

Jaman dulu SD rasanya ga resep banget dah kalo dalam sebulan belom baca Bona dan Rongrong, Oki dan Nirmala, oooh saya kangen banget sama mereka. Belum lagi rubrik-rubrik yang memuat berbagai info unik yang mendidik. Fenomena unik yang jadi sorotan kami bertiga adalah bahwa dalam beberapa tahun terakhir, segmentasi majalah anak-anak sudah digerus oleh majalah mode dan gosip sampah.

Pertanyaan pertama : anak-anak zaman sekarang baca apaan?

Oke sekedar meluruskan bahwa majalah Bobo tidak benar-benar punah, Bobo masih eksis kok sampai 2012 dan pembacanya masih rame. Yang saya permasalahkan adalah munculnya berbagai media bacaan yang sebenarnya tidak layak untuk dibaca oleh anak kecil tetapi selalu ada di rak majalah dimana-mana. Ini karena segmentasi majalah untuk anak kecil yaaaa mungkin tinggal Bobo doang (yang paling beken)

Kemana budi baik yang diajarkan majalah-majalah anak? Kemana Bona dan Rongrong, Oki dan Nirmala dan tokoh khayalan lain yang membuat kami terhibur dan terseret dalam dunia khayalan yang sederhana? Kenapa di rumpun majalah malah semakin menjamur majalah mode dan gosip? Apa ini maksudnya bahwa anak kecil juga harus menjadi korban dari selera pasar yang semakin lama semakin sampah dan menggerus segmentasi majalah anak-anak?

Rentetan pertanyaan ini menuntun kami kepada pertanyaan kedua, yang kami anggap juga menjadi salah satu alasan mengapa degradasi moral anak kecil semakin parah.

Pertanyaan kedua : kemana lagu-lagu anak yang dulu kami dengar?

Ini yang paling memperihatinkan sekarang. Keponakan saya kemarin beli DVD lagu anak-anak (dia hobi banget nyanyi) dan ternyata isi lagunya yaa engga ada bedanya sama lagu zaman saya. Engga ada yang baru, Desaku, Bermain Layang-Layang, ya ampun itu mah dari kapan tau juga udah ada.

Tahun 2012 dan industri musik anak-anak sudah mengalami stagnansi selama hampir lebih dari 20 tahun!

Men, apa ga ada lagi produser yang mau mengorbitkan artis-artis cilik seperti kami dulu? (baca:Chikita Meidy, Joshua, Trio Kwek Kwek, Maissy dll) Idola anak kecil sekarang udah kelewat keren, bahkan menjurus alay.

Saya punya tetangga umurnya yaa sekitar SD lah, dan dia sejak kecil dengernya lagu-lagu pop, macamnya Peterpan, Ada Band, D'Masip, yaa sejenis itu lah ya (ga hafal saya, beneran deh) Dalam benak saya: what the?? 

Anak kecil sama sekali belum perlu denger lagu cinta-cintaan, lagu jazz, lagu rock dan lain-lain. Lagu anak itu sederhana, mudah didengar, tidak mengandung unsur merusak, dan memiliki nilai yang nyata. Bukan tentang wanita, cinta, selingkuh apalagi alamat palsu.

Anak kecil tetap memerlukan imaji dunia dongeng karena ada budi baik di dalamnya. Anak kecil tidak butuh FTV cinta-cintaan menye-menye yang menuntun mereka pada imajinasi dunia dewasa. Anak kecil tidak butuh majalah mode, tren, gosip

Semua ada masanya, dan di awal tahun 2012 ini saya semakin prihatin karena untuk hal apapun, segmentasi untuk anak kecil kurang diperhatikan.

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)