Cerita Dari Parkiran

Kenalan dan berbincang dengan satpam kampus merupakan salah satu dari 7 misi yang saya lakukan di #Misi7 minggu lalu. Saya mempunyai beberapa tujuan yang perlu sekali untuk dituntaskan dengan melakukan ini. Pertama, saya ingin mengadukan keluhan beberapa mahasiswa IPB terkait dengan tarif parkir yang berlaku di IPB. Sebenarnya bukan 'tarif'nya , tapi 'kewajiban' untuk membayar yang sering menjadi persoalan. Ada satpam yang ngamuk-ngamuk jika tidak dibayar, meskipun mayoritas selow-selow saja. 

Kedua, saya ingin juga mendengarkan keluhan dari satpam ke mahasiswa. Kan selama ini kebanyakan mahasiswanya saja yang misuh-misuh sana-sini, sementara kita belum pernah mendengar perasaan mereka seperti apa. Intinya adalah, kami perlu tahu bagaimana kebijakan yang benar dan mendengarkan apa yang sebenarnya para bapak satpam ini inginkan dari mahasiswa.

Kita perlu mendengar suara mereka juga.


ini pos satpam yang saya sambangi. Pos satpam FEMA yang dekat dengan Fateta
Posting ini akan meneruskan hal-hal yang saya dapat setelah share dengan Pak Hari dan Pak Atang, dua satpam yang pada hari tersebut bertugas siang hari di parkiran Fema-Fateta. Mereka orang yang sangat menyenangkan.

Berikut ini adalah beberapa intisari dan poin-poin penting yang saya rasa perlu share :

1. Tarif parkir
Sebelum saya share hasil wawancara saya dengan para bapak satpam yang bertugas, terlebih dahulu saya akan share foto kartu parkir yang selama ini digunakan di kampus IPB. Kartu dan ketentuan yang tertulis di dalamnya akan menjadi bahan untuk posting kali ini
bagian depan
bagian belakang
Di bagian depan perhatikan tulisan :
"KARTU PARKIR GRATIS"
DARI JAM 07:00-17:00
dan di bagian belakang tertulis ketentuan spesifik dunia perparkiran IPB :

PERHATIAN
  1. Mintalah kartu parkir pada petugas
  2. Kartu parkir ini sebagai kartu kendali
  3. Gunakan kunci ganda
  4. Kembalikan kartu parkir ini ke petugas saat kendaraan keluar
  5. Apabila kartu hilang tunjukkan STNK pada petugas
  6. Segala jenis kerusakan dan kehilangan menjadi tanggung jawab pemilik kendaraan 
Dari kartu parkir tersebut, sudah dapat disimpulkan bahwa memang parkir gratis untuk jam 7 pagi hingga jam 5 sore. Ya memang seperti itu adanya, gratis. Masalahnya kalau di luar jam tersebut bagaimana?

Berdasarkan hasil hearing saya dengan Pak Atang dan Pak Hari, pada dasarnya pembuat kebijakan tersebut (Unit Keamanan Kampus) tidak memberlakukan tarif yang mutlak. Lalu harus bayar berapa? "Seikhlasnya aja mas," kata mereka.  "Yaa pakai hati aja ya mas, kita kan kerja satu shiftnya 12 jam, gaji juga ga gede-gede banget. Masa iya sih tega ga ngasih apa-apa. Paling engga buat beli kopi lah."

Meskipun saya bukan seorang pengendara motor yang perlu parkir, tapi saya sarankan untuk membayar tarif parkir seikhlasnya, kapanpun. Karena kewajiban kita bukan hanya yang tertulis di kartu parkir yang kita pegang, lebih dari itu, kewajiban yang kita emban adalah kewajiban sosial yang mutlak harganya ditunaikan. Pakai hati sedikit lah.

2. Tanggung jawab satpam
Apa sebenarnya tanggung jawab seorang satpam? Andaikan satu parkiran dipenuhi sekitar 150 motor, apa yang terjadi pada para satpam jika ada SATU SAJA yang kemalingan?
kawasan parkiran Fateta-Fema
Saya          : "Pak selama ini sempat ada yang kemalingan?"
Pak Atang  : "Alhamdulillah di bagian sini (Fateta-Fema) belum pernah ada mas"
Saya         : "Kalau misalnya ada yang kemalingan, gimana pak?"
Pak Hari   : "Satpamnya diskors mas"
Saya         : "Sampai kapan pak?"
Pak Hari   : "Sampai waktu yang ga pernah ditentukan mas. Dipecat."

Satu saja motor kemalingan dan mereka kehilangan pekerjaan mereka.

Ada penjelasan tambahan perihal tanggung jawab satpam ini. Satpam hanya bertanggungjawab terhadap motor yang MEMILIKI kartu parkir. Sesuai dengan apa yang tertulis dalam bagian belakang kartu parkir, kartu tersebut berperan menjadi kontrol.

3. The 3rd magic word named "Terima Kasih"
"Ingat, ada three magic word, yang pertama 'tolong', yang kedua 'maaf', dan yang ketiga 'terima kasih'." - Kuntum Apriani - Guru BP SMP Negeri 49 Jakarta

Saya masih ingat betul kata-kata Bu Kuntum 7 tahun yang lalu. Beliau lah yang pertama kali memberitahukan kepada saya bahwa tiga kata itu dapat merubah kalimat yang kita ucapkan atau kita tuliskan menjadi jauh lebih menyentuh orang lain.

"Asalkan bilang terima kasih aja, kami udah seneng. Atau kalau engga pasang muka bersahabat deh. Ya gimana ya mas, masa iya sih cuma buat ngomong 'makasih' doang susah banget. Istilahnya kan motor udah kita jagain, paling engga itu aja deh," begitu kata Pak Hari.

Apa susahnya sih bilang terima kasih? 

4. Etika perparkiran lainnya
Ada beberapa hal yang juga rasanya harus saya sampaikan terkait masalah etika perparkiran, antara lain : 

  1. JANGAN PERNAH TINGGALKAN KUNCI DI MOTOR. Oke ini memang HARUS dilakukan, tapi sampai saat ini masih saja banyak orang yang sering meninggalkan kunci menempel di kontak. Pak Atang cerita bahwa beliau sering menyimpan kunci-kunci yang ketinggalan dan menunggu ada mahasiswa yang mengambilnya. "Orang baru merasakan rasanya kemalingan ya kalau pernah kemalingan mas, kalau belum pernah kemalingan ga tau gimana rasanya," kata Pak Hari.
  2. Kalau ingin di kampus hingga sangat larut malam, usahakan masukkan motor ke dalam bangunan kampus. Satpam IPB bekerja dalam 2 shift, shift pertama (07:00-19:00) dan shift kedua (19:00-07:00) Satpam shift kedua area tugasnya juga meliputi bangunan kampus, sehingga tidak selamanya ada di pos jaga parkir. Seringkali para satpam malam merasa serba salah apabila masih ada 1-2 motor yang masih ada di parkiran. Kalau ditinggal, takut kemalingan, dan bisa dipecat. Mau ditungguin, entah sampai jam berapa, dan masih ada tugas untuk patroli bangunan.

Mahasiswa parkir dengan cara mahasiswa dong. Cara mahasiswa cara yang bijaksana. :D

POSTED IN
DISCUSSION 4 Comments

Laporan #Misi7 Pilot Project

Untuk penjelasan mengenai #Misi7, klik disini.

Sebenarnya, aturan dasar #Misi7 adalah menuliskan segala sesuatu tepat setelah saya melakukan hal tersebut. Artinya, seharusnya saya selalu meng-update di blog ini tentang semua hal yang baru saja saya kerjakan setiap harinya. Harusnya. Seperti biasa, hidup saya masih tercurah pada tugas dan laporan di akhir semester, yang membuat saya sangat enggan untuk menulis blog di malam harinya.


Tulisan ini merupakan hutang dari semua laporan #Misi7 saya minggu kemarin. Hasilnya? Saya gagal menjalankan misi ini dengan sempurna, putus di hari ke-6 hanya karena saya terlalu lelah dan bingung mau melakukan apa. Karena ini baru pilot project, kami memutuskan untuk melonggarkan peraturan, semua tetap boleh melanjutkan misinya meskipun sudah gagal di tengah-tengah. Teman-teman saya yang lain juga demikian, mayoritas gagal di tengah-tengah.


Note : semua laporan #Misi7 ini ditulis tidak dengan niatan pamer dan sebagainya, murni sebagai catatan pribadi dan ajakan kepada orang lain untuk melakukan hal yang sama :)


#Misi7 1st Day, Minggu 9 Desember 2012 : Tahfidz selama 2 jam

Tahfidz dapat diartikan sebagai proses menghafal Al-Qur'an. Tahfidz pada dasarnya bukan sesuatu yang wah, biasa saja. Yang wah adalah melakukannya selama 2 jam dalam satu hari (bagi saya, karena saya belum pernah melakukannya sebelum kemarin berhasil :D)


Lagipula memang seharusnya hari Minggu adalah jadwal PPSDMS Bogor untuk tahsin dan tahfidz, hanya saja pada hari Minggu kemarin kami semua berangkat ke regional pusat Jakarta untuk kajian islam tematik dari Sabtu malam. Saya melakukannya satu jam pada siang hari (dan diakhiri dengan tertidur hingga ashar) dan sisanya dicicil sampai setelah latihan taekwondo di malam harinya. 

#Misi7 2nd Day, Senin 10 Desember 2012 : Satu hari tanpa nasi!
Ini merupakan hal yang paling ingin saya lakukan semester ini tapi tidak pernah terlaksana. Masa iya civitas akademika salah satu perguruan tinggi pertanian terbesar di Indonesia yang menggalakkan diversifikasi pangan malah tidak pernah mencoba melalui satu hari tanpa nasi? 

Rencana awalnya adalah, di malam Senin (Minggu malam) saya berangkat untuk belanja kebutuhan non-nasi, seperti singkong dan ubi. Namun cuacanya buruk sekali dan saya malas untuk belanja keluar. Sempat terpikirkan untuk berpuasa, namun rasanya sahur tidak makan nasi sepertinya bukan ide yang bagus karena saya belum terbiasa dan hari Senin adalah hari yang cukup berat jika puasa tanpa sahur nasi. Lagipula sebenarnya kondisi tubuh saya sedang flu berat. 

Alhasil, saya berhutang 5 butir telur pada teman samping kamar, 3 butir saya makan untuk sarapan. Hasilnya? Sangat mengenyangkan. Di siang hari saya makan sebungkus roti dan sekotak susu coklat. Agak sore sedikit saya makan mi ayam dan jagung rebus. Malam harinya saya makan kacang hijau dengan ketan hitam. 

Target saya memang tidak berat, hanya "tanpa nasi". Ada teman saya, Imam Muharram Alitu, yang juga ikutan main #Misi7 dengan standar yang jauh lebih ekstrim : tanpa nasi, mi dan makanan bahan dasar tepung lainnya. Dia makan lauk-pauk dengan kentang rebus. Salut. Lain kali harus saya coba.

#Misi7 3rd Day, Selasa 11 Desember 2012  : Satu hari penuh sholat di masjid/musholla
Ini pada dasarnya sebuah kewajiban dan bukan sesuatu yang wah. Soalnya saya bingung waktu plotting per hari dan mayoritas teman saya pasti menyelipkan satu hal yang "wajar", agar misi ini tidak terlalu sulit dilakukan. Namanya juga pilot project :P

#Misi7 4th Day, Rabu 12 Desember 2012 : Kenalan dengan satpam Fateta
Yang ini sebenarnya diawali dengan kegelisahan beberapa teman (dan saya sendiri) yang masih bingung apakah parkir di IPB bayar atau tidak. Beberapa teman sering sekali bertanya kepada saya tentang hal ini, dan saya tidak bisa menjawab karena saya bukan pengendara motor dan tidak pernah berinteraksi dengan satpam/stakeholder yang bersangkutan. Saya sering berinteraksi dengan tukang taman kampus bahkan sudah kenal dekat, tapi satpam dan Unit Keamanan Kampus belum pernah saya jamah koneksinya.

Ada banyak sekali hal menarik yang bisa diambil dan di-share dari misi ke-4 ini, dan sepertinya akan saya post terpisah di posting lainnya. 

#Misi7 5th Day, Kamis 13 Desember 2012 : Bersih-bersih kelas setiap selesai kuliah
Jadwal saya di hari Kamis 100% kuliah penuh dari jam 7 pagi hingga 3 sore, tidak ada praktikum sama sekali. Hal yang mendasari saya untuk melakukan hal ini adalah kegelisahan pribadi karena kelas seringkali ditinggalkan dalam keadaan yang cukup menyedihkan. Sampah ada di lantai dan bangku-bangku berserakan tidak beraturan. Seringkali saya melihat bapak-bapak petugas ruangan yang menata kembali bangku dan mengambil berbagai sampah yang ada di dalam. Sepertinya melelahkan.

Akhirnya saya memutuskan untuk join. Untuk skala kelas besar (150 orang) harus saya akui capek sekali untuk menata kembali bangku dan memungut semua sampah yang ada di kelas. Beneran deh -___-" Tapi ini semua terbayar rasanya berkat senyuman dan ucapan terima kasih dari bapak-bapak petugas yang ternyata menunggu saya dan beberapa teman lain keluar dari kelas.

Dengan melakukan ini, saya mengerti bagaimana rasanya menjadi petugas pembersih ruangan. Melelahkan dan harus diapresiasi. Apresiasinya sederhana saja kok, dengan tetap merapikan kembali bangku yang kta gunakan dan simpan sampah kalian di saku :)

#Misi7 6th Day, Jumat 14 Desember 2012 : Nothing -___-"
Ini adalah titik gagal saya, terlalu lelah untuk melakukan apapun dan langsung tidur. Menyedihkan.

#Misi7 7th Day, Sabtu 15 Desember 2012 : Adzan di Al-Fath
Al-Fath adalah nama musholla baru di lingkungan Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) IPB. Hampir enam bulan saya menghuni fakultas ini dan saya tidak pernah sekalipun adzan di Al-Fath. Alhamdulillah kemarin saat maghrib tidak ada yang adzan karena memang sudah tidak ada jadwal kuliah jam segitu. Ada kesempatan, sikat bos! :D

Sebenarnya bukan cuma adzan, saya juga belajar cara menyalakan tangki air di Al-Fath karena kemarin airnya mati. Baru kali ini saya tahu betul seluk-beluk Al-Fath 

//||\\

Inilah laporan saya untuk pilot project #Misi7 yang saya lakukan bersama teman-teman yang lain. Banyak teman-teman yang melakukan misi sulit seperti memberi makan anak jalanan, lari pagi sampai siang selama berjam-jam, mengganti model kerudung atau bahkan tidak main game selama sehari penuh (ternyata untuk beberapa orang hal ini sulit dilakukan)

Inti dari permainan ini adalah jujur kepada diri sendiri, seperti kata mas Rene :
"Kalau ga suka, ya bilang aja ga suka, jangan marah-marah. Besoknya lakukan lagi yang baru."

Overall, saya suka dengan hal-hal yang saya lakukan di pilot project ini, meskipun perlu struggle lebih untuk berhasil memenuhi semua tantangannya. Dan pernmainan ini seru, teman satu departemen saya hampir setiap hari bertanya, "Hari ini lo ngapain mar tantangannya?"

Semoga di project selanjutnya makin banyak yang mau ikutan main dan share tentang apa saja hal sederhana dan hebat yang bisa kita lakukan setiap harinya. Kan kebaikan yang  paling hebat adalah kebaikan sederhana yang dilakukan dengan cara menyenangkan, sehingga makin banyak orang yang mau ikutan melakukan kebaikan tersebut. 

See you on the next challenge! :D

POSTED IN ,
DISCUSSION 1 Comment

#Misi7 Pilot Project

Cerita ini bermula beberapa bulan lalu ketika saya menonton sebuah video mas @ReneCC yang diselenggarakan @TEDxJakarta di tahun 2010 yang bertema Passion, Purpose, Value. Berikut saya tampilkan videonya bagi teman-teman yang belum pernah nonton videonya:

Dalam video tersebut, mas Rene memberikan sebuah tantangan yang bernama #Misi21, melakukan 21 hal berbeda selama 21 hari berturut-turut, jika putus pada satu hari saja, maka misi harus diulang. Saya sebagai orang yang paling tidak rela untuk kalah jika ditantang, merasa perlu untuk ikut 'main'. Tapi jadi kurang seru kalau main misi ini sendirian. 

Beberapa hari lalu saya berhasil jadi kompor untuk beberapa teman saya sedepartemen di TIN dan mengajak mereka untuk nonton video yang sama serta mengajak mereka untuk ikut main misi ini. Karena kami merasa 21 hari sepertinya cukup sulit dijalani, akhirnya misi ini kami buat lebih simpel menjadi hanya 7 hari saja. Setelah itu kami mencari beberapa orang yang bisa dikomporin lainnya dan berhasil menggaet kira-kira 5 orang untuk ikut main 

Aturannya kurang lebih sama, hanya saja hal yang dilakukan selama 7 hari tersebut dibuat lebih simpel, tidak perlu hal yang terlalu baru dan toleransi awesome level nya juga rendah. Ada yang misinya makan pisang karena memang dia ga doyan makan pisang. It's okay, hidup hidupnya dia kok hahaha. Ada juga yang sangat spiritual seperti sholat malam atau tahfiz selama selama 2 jam. Mayoritas dari kami mengusahakan 7 hal baru tersebut adalah hal-hal positif dan berguna.
  
Permainan ini akan menjadi pilot project kami untuk menjalankan #Misi7 sesi selanjutnya yang ditargetkan untuk diikuti oleh lebih banyak mahasiswa TIN 48.

Kenapa mesti anak TIN mar yang diajak?

Entah kenapa dengan intensitas tugas yang tidak wajar, saya merasa bahwa anak TIN kurang menikmati hidup dan enggan mencoba banyak hal baru. Hidup terasa monoton. Membosankan. Saya merasa perlu ada penyegaran yang memiliki banyak nilai positif, buat individu, kelompok, atau bahkan umat.

Nilai-nilai positif ini akan tertanam dan bisa jadi bibit kebaikan. 

Pilot project ini akan dimulai pada hari Minggu, 9 Desember 2012 - Sabtu, 15 Desember 2012. Di hari terakhir, kami yang menjadi 'kelinci percobaan' akan mencoba untuk mempresentasikan segala hal baru yang kami lakukan selama seminggu. Seperti biasa, saya akan menulis dan merekam segala yang saya lakukan di blog ini.

Misi sudah dirancang, niat sudah tertanam. Bismillah :)

POSTED IN ,
DISCUSSION 1 Comment

LGB PPSDMS Jilid 1 | Outliers : Amplifying The Wonders

PPSDMS Nurul Fikri, bertempat di Gedung Pusat PPSDMS Jakarta, mengadakan Latihan Gabungan Barat pada hari Kamis-Jumat (15-16 November 2012) yang mempertemukan 3 regional di wilayah barat, yakni Regional 1 Jakarta (Pa/Pi), Regional 2 Bandung dan Regional 5 Bogor. Latihan Gabungan merupakan agenda rutin yang diadakan 4 bulan sekali di wilayah masing-masing (timur dan barat) Satu hari setelah LGB selesai diadakan pula LGT (Latihan Gabungan Timur) untuk Regional 3 Yogyakarta (Pa/Pi) dan Regional 4 Surabaya yang diadakan di Yogyakarta.

Istilah Outliers yang menjadi tema besar LGB merujuk pada kata yang sama yang menjadi judul buku Malcolm Galdwell. Line up pembicara LGB itu cetar banget, ada Jend (Purn).Endriartono Sutarto (Mantan Panglima TNI), Ir. Hasnul Suhaimi, MBA (Persiden Direktur PT. XL Axiata), Ir. Marwan Batubara (Direktur Eksekutif Institute Resource Studies), Gol A Gong (Penulis) dan Rene Suhardono (Penulis ‘Your Job is Not Your Career’, CareerCoach), walaupun pada akhirnya yang terakhir, Mas Rene, tidak jadi datang. Padahal saya udah bela-belain bawa buku ‘Your Job is Not Your Career’ buat minta tanda tangan T.T Tapi gapapa kok, setelah acara, saya colek beliau lewat akun @ReneCC dan janji untuk bertemu di lain kesempatan *wuhu

Saya punya beberapa resume untuk hampir seluruh pemateri yang datang, kecuali untuk Ir. Marwan Batubara karena topiknya terlalu cepat dan seru untuk dicatat. Inti materi Pak Marwan membahas masalah energi di Indonesia dan masalah BP Migas yang beberapa waktu yang lalu dibekukan. Yang saya dapat dari materi Pak Marwan adalah bahwa permasalahan energi minyak dan tambang yang terjadi di Indonesia sudah berlangsung sejak sangat lama, kronis, dan membahayakan negara dalam jangka pendek maupun panjang.

Sisa resume materinya akan saya share di bawah ini. Selamat membaca! :D

Sekedar catatan, hampir seluruh materi yang disajikan adalah share pengalaman dari narasumber yang bersangkutan. Seringkali (dan memang SERING) koherensi setiap konten materi tidak erat, karena memang narasumber menyampaikannya seperti itu -___-


Dialog Tokoh 1st Session
Kamis, 15 November 2012 @ Auditorium PPSDMS Pusat Jakarta
Narasumber : Jend (Purn.) Endriartono Sutarto | Panglima TNI RI (2002-2006)

Sebelum materi dimulai, ada pengantar moderator yang menurut saya patut untuk disimak dan dicermati. Pada tahun 2005, sempat terjadi “Perang Bintang” saat pemilihan umum presiden. Kata ‘bintang’ merujuk pada konotasi kepangkatan tinggi dalam tubuh TNI. Beberapa pelaku “Perang Bintang” ini antara lain Susilo Bambang Yudhoyono dan Wiranto. Sebelumnya, Soeharto, yang sempat memimpin Indonesia di 3 dekade, juga berasal dari tubuh TNI. Kenapa ini bisa terjadi? Mengapa kepemimpinan ala TNI menjadi sangat spesial?

Ada beberapa sebab yang menjadikan kepemimpinan TNI menjadi sangat khas dan spesial. Yang pertama adalah TNI memiliki sistem pembinaan yang sistemik. Proses pembinaan TNI membutuhkan waktu yang panjang dan metode yang tidak sembarangan. Ini yang menyebabkan regenerasi di dalam tubuh TNI tetap terjaga dengan kualitas yang sangat baik. Yang kedua adalah sistem dalam TNI memungkinkan semua unsur dalam TNI untuk meraih pangkat tinggi dengan berdasarkan pada kompetensi. Kenaikan pangkat pada TNI berdasarkan pada kompetensi yang memang dimiliki oleh pribadi yang bersangkutan. Jenjang karir dan kepangkatan TNI sangat jelas dan memiliki syarat. Inilah sebab mengapa kepemimpinan TNI memiliki kesan yang spesial di mata masyarakat.

Selanjutnya, materi dari Pak Endriartono diawali dengan kisahnya bersama Anies Baswedan mempelopori Gerakan Indonesia Mengajar. Masalah utama yang terjadi di kampus di Indonesia adalah PTN dan kampus besar mayoritas dan hampir semua berada di kota-kota besar. Hal ini mengakibatkan mahasiswa-mahasiswa cerdas di berbagai perguruan tinggi ternama tidak bisa merasakan ‘denyut asli’ masyarakat Indonesia yang mayoritas berada di pedesaan. Gerakan ini diinisiasi untuk menanamkan pemahaman akar rumput yang selama ini tidak tertanam di mahasiswa.

Pak Endriartono juga mengatakan bahwa bangsa ini memerlukan kebanggaan. Kebutuhan akan kebanggaan ini yang dirasakan Pak Endriartono sangat minim. Negara kita sering sekali menjadi hinaan bahkan oleh rakyatnya sendiri! Dari bidang olahraga, Indonesia juga sudah tidak terlihat ‘menakutkan’, bahkan di cabang bulutangkis yang dulu kita sempat jadi rajanya. Di bidang lain juga tidak lebih baik kondisinya. Kita seringkalo dianggap seperti ‘budak’ oleh negara lain. Kita mengalami sakit kehormatan dan kebanggaan kronis. Menyedihkan!

Pak Endriartono juga pernah menjabat sebagai Komandan Paspampres RI. Beliau menceritakan bagaimana pengalaman beliau ketika menjabat sebagai komandan Paspampres. Beliau mengatakan bahwa tidak peduli siapapun presiden yang menjabat, benci ataupun suka, asalkan konstitusi secara resmi menunjuk seseorang menjadi presiden, maka apapun yang terjadi beliau akan tetap menjalankan tugasnya. Ini adalah cermin profesionalitas, memisahkan antara pekerjaan dengan perasaan, yang seringkali sangat sulit dilakukan oleh mahasiswa saat ini, terutama dengan sistem peng’afwan’an yang seolah menggugurkan kewajiban untuk berlaku professional dalam berorganisasi.

Sesi tanya jawab juga berlangsung menarik. Salah satu pertanyaan yang paling menarik adalah pertanyaan yang menyinggung kelemahan Indonesia dalam mempertahankan batas terluar perbatasan negara. Pak Endriartono menyadari bahwa Indonesia memang tidak memperlakukan wilayah perbatasan sebagaimana mestinya. Indonesia tidak mengembangkan dengan baik wilayah perbatasan, sehingga masyarakat disana menggantungkan hidupnya pada negara tetangga. Pak Endriartono memberikan sebuah perumpamaan menarik terkait dengan sikap pemerintah mengembangkan wilayah perbatasan dengan mengumpamakan wilyaha perbatasan sebagai ‘halaman belakang’ yang berisi ‘rongsokan’ dan ‘barang yang tidak berguna’. ‘Halaman depan’ yang dipercantik Indonesia hanya di kota-kota besar, padahal wilayah perbatasan adalah ‘halaman depan’ yang sebenarnya.
//||\\

Dialog Tokoh 2nd Session
Kamis, 15 November 2012 @ Auditorium PPSDMS Pusat Jakarta
Narasumber : Ir. Hasnul Suhaimi, MBA | Presiden Direktur PT. XL Axiata Tbk.

Hasnul Suhaimi adalah seorang insinyur lulusan Institut Teknologi Bandung yang pernah menjabat sebagai Presdir Indosat sebelum menjadi Presdir XL Axiata. Pak Hasnul ini memang brilian, fresh graduate dari ITB langsung bekerja jadi engineer di Schlumberger! Materi yang beliau sampaikan di LGB memang menceritakan pengalaman pribadinya, dan memang terdengar agak sedikit… err… mempromosikan XL. Buat saya sih tidak masalah selama masih banyak intisari yang bisa diserap dari pengalaman beliau.

Pak Hasnul mengawali materi dengan menjelaskan bahwa selama ini ada dikotomi (pemisahan) yang terjadi di dalam dunia bisnis, antara kepentingan perusahaan vs kepentingan masyarakat dan manajemen tugas vs manajemen SDM. Akan tetapi Pak Hasnul tidak menganggap dikotomi ini sebagai masalah. Beliau menawarkan solusi cerdas untuk tidak mendikotomikan kedua hal tersebut. Yang pertama adalah bagaimana menyeimbangkan antara kepentingan perusahaan dengan kepentingan masyarakat. Pemahaman yang harus ditanam adalah bahwa perusahaan ada untuk mengambil keuntungan dengan melayani masyarakat semaksimal mungkin. Yang kedua, menanamkan etos kerja kreatif dan professional agar tugas selesai dan SDM yang ada tidak terdzolimi.

Beliau punya cara unik dalam menerapkan kedua usaha anti-dikotomi tersebut. Konsepnya adalah bagaimana mengajak para karyawan untuk memecahkan solusi perusahaan bersama-sama untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Salah satu contohnya adalah bagaimana ia menantang para karyawannya untuk menurunkan tarif hingga Rp.100! Bisa tidak dengan tarif seperti itu perusahaan masih tetap mendapatkan margin yang cukup. Ternyata akhirnya bisa, dan seperti itulah cara Pak Hasnul dalam mengakali dikotomi perusahaan tersebut.

Intinya adalah bagaimana melibatkan proses kreatif karyawan kita sendiri untuk memecahkan permasalahan besar agar mereka merasa memiliki andil dalam perusahaan dan merasa semangat dalam bekerja.

Setelah menceritakan pelbagai pengalamannya bersama XL, Pak Hasnul memberikan beberapa materi kepemimpinan. Mengutip dari John C. Maxwell, pemimpin adalah mereka yang knows the way (vision) , goes the way (courage), shows the way (influence). Kemudian Pak Hasnul menambahkan pelengkap contribute along the way.

Trivia 1 : Meskipun XL banyak memberikan gratis, perusahaan mendapatkan comeback profit 2x lipat! Entah karena apa.

Trivia 2 : Pak Hasnul sebagai Presdir XL Axiata mengaku menggunakan kartu prabayar! Selain itu, melalui teknisinya, ia meminta untuk menaruh priority call nomornya di urutan terbawah. Ini dilakukannya untuk bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi customer. Salut!

                                                                //||\\

Setelah itu, dilanjutkan dengan materi dari Ir. Marwan Batubara yang tidak sempat saya catat isinya. -____-

Di malam hari, ada evaluasi Bang Aji (Manajer Bid. Program PPSDMS) untuk evaluasi masa internalisasi. Tidak banyak yang bisa diceritakan karena isinya sebagian besar pemaparan statistik kehadiran dan keaktifan peserta, hanya saja ada beberapa bait kalimat yang saya rasa sangat baik untuk di-share:

Be careful of your thoughts for your thoughts become your words
Be careful of your words for your words become your actions
Be careful of your actions for your actions become your habits
Be careful of your habits for your habits become your characters
Be careful of your characters for your characters become your destiny
:)
 //||\\

Dialog Tokoh 4th Session
Jumat, 16 November 2012 @ Auditorium PPSDMS Pusat Jakarta
Narasumber : Gol A Gong | Penulis

Gol A Gong kehilangan tangan kirinya karena kecelakaan yang menimpanya saat masih anak-anak. Saat itu orangtuanya berujar :

“Ini buku, bacalah! Maka kamu tidak akan pernah ingat bahwa kamu pernah cacat”

Kalimat inilah yang memicu semangat dan kecintaannya pada dunia membaca. Gol A Gong juga merupakan pendiri Rumah Dunia, sebuah taman membaca yang didirikannya bersama istri dan dihidupkan oleh masyarakat sekitar di lingkungan rumahnya.

Gol A Gong mengkritik sikap orang-orang terdidik, maksudnya mereka yang berkuliah di perguruan tinggi, karena mayoritas mereka menyimpan bukunya di rak buku. Sentilan ini sangat terasa karena memang kenyataannya ternyata kita sendiri yang membuat bodoh orang Indonesia karena telah menyimpan buku terlalu banyak, tanpa pernah memberikan kesempatan untuk orang lain menikmati buku-buku yang kita miliki. Gol A Gong menyerukan sebuah gerakan yang bernama Gempa Literasi.

Ketika beranjak dewasa, Gol A Gong semakin cinta terhadap dunia kepenulisan. Sampai pada akhirnya dia memutuskan untuk menjadi seorang penulis dan meminta izin kepada sang ibu. Sang ibu hanya berujar, “Benar kamu ingin menjadi penulis? Jika iya, jadilah penulis yang mampu membawa pembacanya ke mata air” Mata air yang dimaksud adalah pencerahan dan inspirasi.

Closing statement dari Gol A Gong : menjadi berguna jauh lebih penting daripada menjadi orang penting.
 //||\\

Sayang sekali, Rene Suhardono tidak jadi hadir dalam LGB, jadi tidak ada resumenya *yaaah

Sampai jumpa di LGB Jilid 2, 4 bulan lagi! :D

POSTED IN , ,
DISCUSSION 0 Comments

Mewarnai Pendidikan Indonesia

Tulisan ini diikutsertakan dalam Aku Untuk Indonesiaku Blog Competition Lintas.me 

“…melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia….” – Alinea ke-4 UUD 1945

Alinea ke-4 Undang-Undang Dasar Tahun 1945 memuat beberapa hal, salah satunya adalah tujuan negara yang juga merupakan sebuah janji kemerdekaan. Muatan janji kemerdekaan yang terkandung dalam alinea ini antara lain melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta dalam pelaksanaan misi ketertiban dunia. Aplikasi dari masing-masing janji kemerdekaan ini sudah terlaksana, meskipun semuanya belum optimal, terutama pada janji untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pendidikan merupakan cara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurut Wikipedia, pendidikan dapat didefinisikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Hal-hal ini sangat esensial untuk terbentuknya kehidupan yang lebih baik dan bermartabat.

Sayangnya, dewasa ini kesempatan untuk memperoleh pendidikan tidak merata. Di Indonesia, pendidikan yang layak hanya milik mereka yang berada di kota besar. Mengingat wilayah Indonesia yang memang sangat luas dari Sabang sampai Merauke sangat sulit untuk menjamin pemerataan kesempatan pendidikan di Indonesia.

Adalah seorang Anies Baswedan, tokoh dan negarawan yang kemudian mendirikan gerakan bernama Indonesia Mengajar yang memiliki misi untuk menyebarkan pendidikan di sudut-sudut republik yang terlupakan. Gerakan ini juga melatih para sarjana muda yang ingin menyebarkan kebaikan dan menanamkan pemahaman akar rumput agar mereka mampu memahami denyut nadi negaranya, mulai dari sudut-sudut kecil Nusantara.

Para pengajar muda ini dilatih sedemikian rupa, “dibuang”, dan memberikan inspirasi kepada anak-anak. Mereka adalah para pembawa harapan akan datangnya sebuah generasi yang lebih baik dengan cara yang paling manusiawi sepanjang sejarah manusia : pendidikan.

Bagaimana dengan saya? Apa yang sudah saya lakukan?

Saya sendiri merupakan mahasiswa Institut Pertanian Bogor yang juga merupakan penerima beasiswa Tanoto National Champion Scholarship dari Tanoto Foundation, sebuah yayasan yang bergerak dalam peningkatan kualitas dan mutu hidup masyarakat, salah satunya dengan peningkatan kesempatan pendidikan. Saya beserta penerima beasiswa yang sama lainnya membentuk sebuah asosiasi yang bertujuan untuk membagikan kesempatan pendidikan yang kami terima dengan mengabdi sebagai pengajar di sebuah desa di kawasan Sukadamai, Kabupaten Bogor.

Kawasan Sukadamai memang tidak sesulit desa-desa tempat para pengajar muda di Indonesia Mengajar ditempatkan, tetapi saya harus mengakui bahwa desa tersebut kekurangan infrastruktur mengingat berada cukup jauh dengan pusat kota. Anak-anak di sana juga kekurangan bahan bacaan untuk memperkaya khazanah ilmu mereka. Waktu belajar di sekolah juga terlalu sebentar dan anak-anak cenderung enggan untuk belajar bila tidak ada mengajar di rumah. Kami mengisi kekosongan waktu belajar mereka di luar sekolah.

Misi kami sederhana, setiap Sabtu siang hingga sore menyempatkan diri untuk hadir ke desa tersebut dan mengajar anak-anak PAUD, TK dan SD. Setiap individu akan mengajar kelas tertentu dan mengajarkan materi sesuai dengan yang mereka dapat saat di sekolah. Jadinya semacam pendalaman materi. Kami juga membawa beberapa buku untuk kami bacakan bila mereka mau. Akses terhadap buku yang minim ini membuat kami ingin menciptakan taman bacaan agar mereka bisa leluasa membaca kapanpun di desa tersebut.

Saya mendapatkan jatah untuk mengajar kelas 3 SD. Mereka diam saja saat saya tanya mau belajar apa. Takut mungkin. Akhirnya karena memang jatah belajar saat itu matematika, saya berikan materi tentang perkalian. Secara konsep, mereka bisa memahami perkalian, tetapi mereka sangat kesulitan jika mengalikan angka di atas 6, karena mereka masih menggunakan tangan untuk menambah setiap angka yang dikalikan. Mula-mula saya jelaskan bahwa sebenarnya hakikat perkalian ujung-ujungnya bukan untuk dihitung, tapi untuk dihafal. Ketika nanti mereka menghadapi perkalian di atas 1 digit, akan sangat sulit jika mereka masih menggunakan tangan. Mereka mengangguk.

Akhirnya saya hanya memberikan latihan perkalian kepada mereka, agar mereka dapat lebih hafal. Saya juga jelaskan bahwa jika dihitung, perkalian memiliki sifat khusus, seperti : 3x6 = 3x(5+1) sehingga mereka tidak perlu mengulang dari angka 3 untuk menghitung 3x6, mereka cukup menambah 15 (hasil dari 5x3) dengan 3. Saya jelaskan ini karena dari cara menghitung yang mereka lakukan, mereka seringkali lupa dengan hasil penjumlahan tangan mereka sendiri.

Setelah mengajar, mereka minta satu hal : dibawakan buku cerita minggu depan. Mereka yang berasal dari kaum yang sulit mendapatkan akses buku sewajarnya merasa "haus" dengan cerita-cerita dari dunia 'lain', dunia khayal. 

Ini adalah beberapa dokumentasi yang terekam selama kegiatan kami beberapa minggu yang lalu : 
mbak Desti sedang mengajar menggambar anak-anak tingkat PAUD

ini mereka siswa-siswanya haha itu yang baju merah putih di tengah  jadi primadona dicubitin mulu sama pengajar :D

cheese :))

Gerakan Indonesia Mengajar, saya, dan Anda semua, dapat berperan besar untuk mewarnai pendidikan Indonesia. Mumpung kita masih muda, mumpung kita masih diberkan kesempatan untuk membuat banyak karya. Mewarnai dan membuat pelangi untuk pendidikan Indonesia.
me-melangikan bumi Indonesia :)

POSTED IN ,
DISCUSSION 0 Comments

Bersikap Seperti Twitter

klik gambar untuk memperjelas

Lagi twitter-an siang-siang dan menemukan ini ketika saya gagal nge-twit.

Terus maksudnya apaan Mar? Gajelas lu

Maksudnya adalah twitter aja yang tidak punya hati minta maaf dan mau mengakui kalau dia melakukan kesalahan, masak iya kita sebagai manusia yang dibekali akal dan hati enggan untuk minta maaf dan mengaku salah. Sekarang malah lagi musimnya orang main salah-salahan dan melemparkan tanggung jawab. Be gentle dong bos!  

Sekedar sentilan buat manusia yang memang perlu disentil karena banyak khilaf :)

POSTED IN , ,
DISCUSSION 0 Comments

Waktu Yang Tepat

Sebelum memulai tulisan ini, saya ingin meminta maaf terlebih dahulu jika ada kata-kata/kalimat dalam tulisan ini yang mengganggu ataupun melukai perasaan siapapun yang membaca. Ada beberapa orang yang memang sensitif sekali dengan tema seperti ini. Sekali lagi maaf.

Teman-teman saya semasa SMA seringkali menempatkan perempuan ke dalam dua golongan, yakni perempuan yang layak untuk menjadi pacar dan perempuan yang layak untuk menjadi istri. Saya sepakat dengan mereka, sampai beberapa waktu yang lalu. Sampai kemudian saya sadar bahwa penggolongan tersebut tidak selamanya valid. 

Bagaimana ya? Duh sulit sekali menjelaskan ini -__-"9

Intinya adalah kedua hal itu bukanlah 'golongan' seperti golongan darah yang bersifat mutlak, tapi lebih ke arah 'level' atau 'tingkatan'. Perempuan yang layak untuk dijadikan istri adalah mereka yang memiliki pemahaman dan tingkat kedewasaan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan yang layak dijadikan pacar. Ini cuma masalah pemahaman saja. Tidak ada sama sekali kehinaan di antara mereka. 

Dan untuk mereka yang layak untuk dijadikan istri, perlakuannya juga harus berbeda. Mereka adalah para wanita yang hanya menyediakan jawaban 'ya' atau 'tidak' atas pertanyaan serius terkait dengan masa depan mereka. Mereka tidak pantas dan tidak pernah menyediakan jawaban untuk pertanyaan yang tidak serius dan main-main. 

Penghormatan untuk mereka yang layak untuk dijadikan istri adalah dengan meminta jawaban atas mereka pada waktu yang tepat. Hanya pada waktu yang tepat.

Laki-laki yang baik, adalah mereka yang hanya akan melakukan yang benar kepada perempuan yang tepat. Hanya akan melakukan yang benar, kepada perempuan yang tepat.

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Pahlawan 1500 Rupiah

Hari ini saya bisa begitu lancar membaca dan menulis. Dan hari ini juga, saya mulai mengingat kembali, siapa yang membuat saya bisa melakukan semua ini. Ketika mengingatnya kembali, maka memori saya terlempar ke sebuah surau kecil, belasan tahun yang lalu

//||\\
15 tahun yang lalu...

Saya menemukan masa kecil saya berbaring di sudut surau, tidur-tiduran sambil menyandarkan kaki ke arah tembok. Melihat langit-langit surau sambil minum susu coklat dari sebotol dot. Ditemani seorang kakak perempuan yang sepertinya sudah bosan melihat saya tak kunjung bergerak. Malas. Menunggu giliran uji membaca.

Setiap hari, kecuali hari Jumat dan Minggu, saya selalu datang ke surau ini. Pagi-pagi berangkat ditemani oleh Ibu atau kakak perempuan jika ia sedang libur. Ibu memasukkan saya semenjak saya masih umur 3 tahun karena memang di rumah tidak banyak teman bermain. Teman saya hanya sekitar rumah, kakak-kakak saya juga sudah SMA. Beda usia yang cukup jauh membuat saya jarang bermain dengan mereka. 

Ini memang surau tempat belajar Al-Quran, tetapi kami tidak hanya belajar tentang ilmu agama. Kami diajarkan untuk membaca, menulis dan berhitung. Surau ini adalah kombinasi indah antara ilmu dunia dan ilmu akhirat. Seimbang. Porsi belajar di tempat ini juga cukup satu jam. 

Satu jam yang sangat berharga.

Surau ini digawangi oleh para teteh (sebutan kakak perempuan dalam bahasa Sunda) yang selalu setia mengajar kami sejak pagi. Mereka adalah para ibu muda yang penuh semangat dalam menghadapi masa kecil kami yang tidak jelas. Murid-murid di surau ini adalah mereka yang tidak mampu memasukkan anaknya ke TK. Kebanyakan dari kami adalah anak dari orangtua berpenghasilan pas-pasan.

Lembaga yang mengampu pengajaran di surau ini hanya menetapkan 'tarif' yang diambil sebagai infaq sebesar Rp. 1500/bulan. Pada saat itu, Rp. 1500 hanya bisa untuk membeli semangkuk bubur ayam komplit. Saya tidak habis pikir bagaimana lembaga ini bisa bertahan, dengan infaq yang sangat-sangat minimum. Bayangkan saja, andaikata surau ini mengasuh sekitar 40 siswa dalam satu kelas, dan ada sekitar 4 kelas terpisah, maka pemasukan dari infaq hanya sebesar 160 x Rp. 1500 = Rp.  240.000!

Ada sekitar 6 pengajar dan tenaga administratif, dan total pemasukan mereka dari infaq siswa hanya Rp. 240.000, berarti satu orang hanya mendapatkan Rp. 60.000/bulan sebagai pengganti tenaga mereka. 

Saya yakin sekali bahwa para teteh-teteh ini memiliki pekerjaan lain di samping menjadi pengajar di tempat ini. Tapi bayaran sebesar itu untuk mengajar membaca dan menulis selama hampir seminggu penuh setiap bulannya....

Betapa besar jasa seorang guru yang mengajarkan membaca dan menulis. Jika kita mampu mengartikan definisi pahala sebagai sesuatu yang memiliki efek domino, maka saya yakin yang paling banyak mendapatkan pahala atas segala yang kita lakukan sekarang salah satunya adalah seseorang yang dahulu mengajarkan kita menulis dan membaca. Karena hampir seluruh aktivitas yang kita lakukan sangat berkaitan dengan dua hal ini, terlebih dalam dunia akademik.

Saat ini, beberapa alumni surau itu memiliki banyak capaian mengagumkan, meskipun awalnya kami hanya sekelompok anak ingusan dari keluarga marjinal. Ada sekitar 5 orang teman sekelas saya dulu yang saat ini menempuh pendidikan sarjana di beberapa universitas favorit. Saya, salah satunya, alhamdulillah diberikan kesempatan belajar di salah satu kampus terbaik negeri ini, Institut Pertanian Bogor. Hebatnya lagi, salah seorang rival saya sejak kecil, saat ini sedang belajar Chemical Engineering di salah satu universitas di Jepang.

Para pahlawan 1500 saya mungkin 15 tahun yang lalu belum tahu, bahwa bibit yang mereka  pupuk saat ini telah berbunga. Berbunga indah sekali.

//||\\

"Delmar, ayo giliran kamu baca!" panggil Teh Yati

Saya melihat seorang anak kecil yang merasa terpanggil, awalnya menyandarkan kaki ke  tembok di sudut surau sambil minum susu coklat, berdiri dan berjalan setengah berlari ke arahnya. Botol susunya dibiarkan begitu saja. Duduk bersila membaca alfabet dalam buku berwarna hijau muda mengkilap.

Baru sekarang saya sadar, bahwa masa kini yang sedang saya alami, tidak akan pernah menjadi seperti ini tanpa buku hijau itu. Tanpa surau itu. Tanpa teteh pengajar.

Mereka ada di daftar orang-orang yang akan saya kenang sepanjang masa. Para pahlawan 1500 rupiah saya.

POSTED IN
DISCUSSION 2 Comments

Past That Matter : Closing Statement

Akhir kata, menutup untaian kisah yang saya utarakan melalui seri Past That Matter ini, saya hanya ingin mengatakan :

Jangan pernah remehkan kekuatan selembar foto!

Mungkin foto itu kurang berharga saat ini. Tapi ingatlah ketika kita sudah melupakan berbagai momen yang terjadi dalam hidup kita, selembar foto itulah yang akan menceritakan kembali. 30 tahun atau 20 tahun lagi, selembar foto itu akan menjadi saksi sejarah hidup kita.

Dan dokumentasi tentang cerita masa lalu, saya merasa setelah menulis ini bahwa menulis ulang setiap little moment di dalam blog merupakan sesuatu yang luar biasa. Mbak Lia, sepupu saya yang saat ini sedang tinggal di Amerika merasa sangat senang melihat kembali masa lalunya.

She found and she meet her past. 

Saya sangat merekomendasikan untuk teman-teman yang sempat mampir untuk membaca post ini untuk menceritakan ulang foto masa lalu mereka (jika ada)

So grab your old photographs and write your own stories!

DISCUSSION 0 Comments

Past That Matter 3rd Chapter

Read the prologue first, click here.

Chapter ketiga ini adalah chapter terakhir dalam rangkaian Past That Matter untuk seri kali ini (ya, selanjutnya akan ada ragam foto jadul yang akan saya post, entah kapan -_-) Di chapter terakhir ini berisikan foto-foto saat saya sudah mulai beranjak besar, sekitar tahun 1996-1997


Foto ini diambil saat saya sekeluarga sedang jalan-jalan ke TMII. Seseorang yang menuntun saya adalah mbah kakung saya dari pihak ayah yang sudah meninggal 2 tahun yang lalu. Beliau adalah seorang carik di sebuah desa yang sangat dekat dengan desa tempat Jenderal Soedirman dilahirkan, yakni Desa Bantarbarang. Desa kami, Wanogara, saat ini adalah tempat bersemayamnya monumen yang didirikan negara sebagai bentuk penghormatan bagi Jenderal Soedirman. 

Beliau ini bukan carik desa sembarangan, mengingat di satu desa hanya sedikit orang yang memiliki kemampuan membaca dan menulis yang cukup. Beberapa tahun yang lalu, saya pernah melihat sebuah piagam penghargaan tertulis tergantung di atas kamar beliau di desa. Sebenarnya piagam itu sudah lama ada di sana tapi saya tidak pernah menyadarinya. Setelah saya ambil bangku dan naik ke atasnya, saya baru sadar bahwa itu adalah penghargaan dari salah seorang mantan Menteri Dalam Negeri RI, atas jasa mbah saya sebagai carik. Saya juga tidak tahu betul apa prestasinya, tapi mendapat penghargaan dari menteri itu luar biasa :D 

Mbah juga terkenal sebagai orang yang sangat-sangat penyabar, baik dan tulus hatinya. 


Ini adalah foto keluarga resmi terlengkap pertama semenjak saya lahir. Saya ingat betul itu saya berdiri dengan alas meja telepon. Mejanya bundar, kayu, kecil, dan tidak stabil. Itulah sebab kenapa muka saya agak tegang sendiri, lengkap dengan tangan yang mencengkeram ibu.

Mbak dan mas juga sangat berbeda jika dibandingkan dengan yang saya post di chapter 1 :D



Ini adalah salah satu foto favorit saya :D Setting tempat dan waktunya sama seperti foto yang pertama, di TMII. Foto ini diambil saat saya pertama kalinya naik kereta gantung di TMII. Di hadapan saya ada.... ada siapa ya saya lupa -__- 



Ini juga salah satu foto yang saya suka. Saya (berbaju kuning dan bertopi) sedang bermain bersama teman sebaya di lingkungan rumah. Yang paling kiri itu Mbak Vita, sekarang sudah jadi perawat, di sebelah kanan saya ada Mbak Melly yang beberapa waktu yang lalu lulus dari Teknik Industri ITB. Yang berbaju biru adalah Aji, teman saya yang hanya beda 4 hari lahirnya, dia lahir tanggal 4 Maret 1994. Dan yang paling kanan adalah Arsyi, kakaknya Aji.

Foto ini menjadi sangat terkenang karena merupakan saksi bisu generasi F1 (gen ke-1) terakhir di lingkungan rumah kami. Generasi 'anak-anak' yang ada di lingkungan rumah saat ini adalah generasi 'cucu' (F2), anak dari generasi F1. 



Saya tidak menyangka bahwa permen Fruit Tella sudah ada saat saya masih sekecil ini. Tapi saya masih ingat kalo saya pernah suka banget sama permen ini. Saya lupa mengecek ini diambil pada tahun berapa, tapi seingat saya sudah saat saya berumur 3 tahunan. 


Keep calm. B)

DISCUSSION 0 Comments

Past That Matter 2nd Chapter

Read the prologue first, click here


Chapter kedua berisi foto-foto saat saya menjelang dilahirkan (ibu masih hamil) dan saat saya masih dalam usia sekitar 1-2 tahun. Merujuk pada usia dan tanggal yang tertera pada foto, maka dapat dipastikan foto-foto dalam chapter ini diambil pada rentang tahun 1994-1995.


Foto ini diambil di rumah, beberapa bulan sebelum saya lahir. Kalau saya tidak salah ingat, di bagian bawah foto ini samar-samar masih terlihat cetakan tanggal diambilnya foto ini, sekitar bulan Januari 1994. Dua bulan menjelang kelahiran saya. Ibu sudah terlihat sangat gendut. Dia masih belum sadar bahwa ia telah mengandung seseorang yang bandel dan gemar berulah.


Foto ini diambil beberapa hari setelah saya dilahirkan. Umur saya belum sampai sebulan bahkan. Foto saya digendong kakak dan ayah ini diambil di dalam rumah sendiri. Keimutan saya masih dalam ambang batas maksimal. Maksimal.





Nah kalau foto yang ini tanggal ambil gambarnya terlihat jelas. Disitu tertulis 1 8 94 (1 Agsutus 1994) Umur saya berarti baru sekitar 5 bulan. Giginya udah mulai tumbuh beberapa di bagian bawag. Masih imut dan ganteng B)


Kalau yang ini beda sebulan dengan foto sebelumnya. 1 September 1994. Rambutnya keliatan jauh lebih lebat dibanding foto sebelumnya, padahal cuma beda sekitar sebulan lebih. 


Lucu :3



Yang ini udah mulai gedean. Dan sekedar informasi, jaman dulu saya emang hobi banget pake topi. Seinget saya, kalau diajak main kemana, pasti pake topi. 

DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)