Jejaring Takdir

Saya sangat percaya bahwa hidup ini tidak linear, tidak garis lurus. Saya juga percaya bahwa hidup ini bukan parabola, bukan seperti gujlakan naik-turun, tidak, tidak se-simpel itu. Saya sangat percaya bahwa hidup ini seperti sebuah fungsi matematika, tapi saya yakin tidak ada seorangpun manusia yang mampu menggambar grafiknya. 

Fungsi ciptaan-Nya rumit luar biasa. Saya sungguh percaya.

Dan kali ini saya akan menulis tentang sesuatu yang agak kompleks. Tentang kemungkinan hidup seseorang. Simpelnya seperti ini, kalau saja Newton tidak iseng-iseng duduk di bawah pohon apel yang konon katanya memberikan dia pencerahan tentang hukum gravitasi, maka yang akan terjadi adalah……… saya ga tau juga, jangan tanya saya dong =P

Terus maksud lo apaan mar?
Duh gini lho, maksud saya hidup seseorang itu secara hakiki ‘terikat’ secara tidak langsung dengan jutaan hal-hal kecil yang ada di sekitarnya. Ada ‘jejaring takdir’ yang tidak akan pernah kita mengerti alasannya.

Saya menulis ini karena saya pernah mengalaminya. Sebuah hal kecil yang kemudian bisa merubah keseluruhan hidup saya, dan orang-orang yang saya kenal.

Apaan tuh mar?
Sabar dong, pelan-pelan dulu.

Ini dimulai waktu saya masih SMP dulu di SMPN 49 Jakarta. Dulu waktu kelas IX saya ngimpi banget pengen sekolah di SMAN 81 Jakarta. Meeeeen itu sekolah gahool dan keren abis *waktu itu sih mikirnya gitu ya, sekarang sih biasa aja =P

Jadi intinya waktu hasil UN SMP keluar, ternyata nilai saya 36,10 (4 mata pelajaran). Matematika 9.75, Bind 8.40, Bing 9.20, IPA 8.75. Matematika saya salah satu, padahal pas dikoreksi saya yakin banget dapet nilai sempurna. Sampai tahap ini saya tidak terlalu mempersoalkan dan tetap pede memilih SMAN 81. Pilihan kedua sampai kelima saya NGASAL milihnya. Kenapa? Terlalu pede saudara-saudara -______-

Dan TERNYATA setelah hasil seleksi final, saya ga berhasil dapet SMAN 81. Lemes
Nilai minimum buat masuk SMAN 81 adalah 36.20, kurang 0.10 lagi.

Lebih lemes lagi karena ternyata saya harus nyelos ke pilihan kedua, apa itu?
SMAN 14 Jakarta

Saya ga pernah tau awalnya ini sekolah letaknya dimana. Gedungnya kayak gimana dan lain sebagainya. Daaaan first impression tentang sekolah ini adalah : anjir ini sekolah apa pabrik tempe?

Gedungnya bapuk banget dan di depan sekolah ada pembangunan apartemen yang membuat debu bertumpuk dimana-mana. Sempat berpikiran pengen pindah tapi akhirnya diurungkan karena repot ngurus-ngurus PSB II lagi.

Dan sekarang…
Saya sudah kuliah di kampus impian saya sejak SMP : Institut Pertanian Bogor dan pernah mendapatkan kesempatan besar mendapat amanah menjadi Ketua OSIS di SMAN 14.

Kalau Anda teliti, semua ini karena satu soal matematika saya yang salah. Kalau saja nilai matematika saya sempurna, nilai total saya menjadi 36.35 dan cukup banget buat masuk SMAN 81.

Kalau saja satu soal itu benar, mungkin saya tidak menjadi seperti ini. Kenal sahabat-sahabat saya yang baik hati, gila dan guru-guru yang memorable.

Satu soal matematika, ternyata mampu mengubah keseluruhan arah hidup seseorang dan orang-orang di sekitarnya. Saya selalu merinding setiap kali mengingatnya.

Allah telah membuktikan pada saya, bahwa fungsi-Nya benar-benar ajaib luar biasa.  

POSTED IN ,
DISCUSSION 2 Comments

2 Responses to : Jejaring Takdir

  1. Lia says:

    selalu amazing melihat bagaimana Allah mengatur segala kompleksitas yang terjadi di dunia, dan ga ada yg ga kelar diurusin.
    Maha Besar, isnt it? :)

  2. yah itulah dia mbak seninya menikmati takdir-Nya :)

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)