Selaksa Cerita dari Kapitan Pattimura

Baru kali ini nge-post cerpen (lagi), alasannya satu : malumilkysmile 
Tapi kalo malu terus kapan majunya? Cerpen ini pernah saya kirim untuk lomba menulis cerpen di Rohis 14, cuma sampai sekarang engga jelas hasilnya gimana T,T Kritik dan saran saya tunggu, selamat menikmati :)

Matahari sudah terbenam 2 jam yang lalu namun kegiatan jual-beli masih berlangsung di pasar ini. Kurang tepat disebut ‘masih berlangsung’ karena kenyataannya pasar ini baru memulai kegiatannya jam 5 sore. Bau ikan, kerang hijau, tiram, sayuran busuk, asap knalpot bis dan motor menambah semarak pasar malam ini. Temaram cahaya lampu bohlam murahan menerangi setiap sudut los, berwarna kuning metafora kemiskinan.

“Maaf pak, ada uang 500-an?”, tanya Pardi, majikanku dua hari terakhir kepada seorang laki-laki bertubuh gempal di hadapannya. Laki-laki itu menyampirkan bungkusan ikan yang baru ia beli ke tangan kirinya, lalu dengan wajah sebal mengambil dompetnya dan menyerahkan uang logam 500. Pardi mengambilnya dan menyerahkanku pada laki-laki itu.
######

Pardi adalah laki-laki yang baik. Dua hari aku berada di tas pinggangnya, aku banyak bertemu uang-uang lain, silih berganti. Dari mereka, aku mendapatkan kenyataan bahwa Pardi pantang melakukan transaksi haram. Kalian bingung kenapa kami para uang bisa mengetahui hal itu? Karena uang hasil transaksi haram berbeda, baunya amis, lebih amis dari pasar ikan dan seisinya. Tak kutemukan uang seperti itu dalam tas pinggang Pardi.

Meskipun miskin, Pardi tetap menyisihkan sebagian hartanya untuk orang yang lebih miskin. Teman-temanku yang bergambar Tuanku Imam Bonjol selalu dimasukkan ke dalam kotak amal setiap subuh. Maka uang seperti itu harum mewangi karena digunakan untuk menegakkan kebajikan. Uang untuk amal menebarkan wangi yang mampu menghilangkan bau amis uang haram. 

Namun uang untuk amal yang ikhlas jauh lebih wangi dari apapun, lebih wangi dibanding bunga kesturi dan kebunnya. Kami yang tersisa di dalam tas pinggang hanya bisa iri. 

######

Laki-laki itu langsung meremasku dengan kasar dan menaruhku di dalam kantong celananya segera setelah Pardi menyerahkanku pada laki-laki itu. Ah pindah majikan lagi. Tidak ada uang lain di kantongnya, tapi samar-samar kucium bau amis. Aku meyakini dua hal yang pasti. Yang pertama pastilah uang haram pernah mampir di kantongnya. Yang kedua, dari caranya meremasku jelas ia adalah laki-laki yang tidak bisa menghargai uang 1000.

######

Laki-laki itu melemparkanku ke sebuah meja yang sangat berantakan. Di meja itu tergeletak sebuah koper besar dan disampingnya terdapat banyak sekali uang! Bertumpuk-tumpuk! Berwarna merah dan berkilat-kilat. Gagah betul dan banyak angka nol nya. Tak pernah kulihat uang seperti itu sepanjang perjalananku. Terdapat dua figur laki-laki karismatik di lembaran uangnya. Sepersekian detik berikutnya, kucium bau amis yang sangat kukenal. 
Parah betul bau ini, tak terlukiskan. Amis sampai tengik. Setelah beberapa saat kutengok kanan kiri dan tak kutemukan uang lain selain uang merah itu, dapatlah kupastikan bau itu berasal darinya.

“Berhenti memandangku seperti itu, uang rendahan”, ujarnya tiba-tiba. Sepertinya dia risih dengan tatapan mataku. “Apa maksudmu dengan uang rendahan? Setidaknya meskipun nilaiku tak seberapa dibandingkan nilaimu, sadarilah bahwa dirimu sumber bau tengik itu!” aku menggertaknya balik. Ia menghela nafas panjang. “Maafkan aku Pattimura, tak sepantasnya aku menghardikmu demikian”, jawabnya. Kami terdiam untuk beberapa saat. 

“Kau tahu untuk apa koper yang ada di meja ini?”, tanyanya kepadaku. “Tidak, dan itu bukan urusanku”, jawabku ketus. Ia tersenyum getir mendengar jawabanku. “Pemilik koper ini, laki-laki gempal yang tadi meremasmu adalah biang segala dosa.” Ia muntab, marah. 

“Pekerjaannya tetapnya adalah lintah darat dan tukang ijon! Pekerjaan sampingannya tukang timbun minyak tanah, membeli ketika harga murah, menyimpannya di halaman belakang rumah dan menjualnya dengan harga selangit ketika langka. Pemerintah kabupaten yang mencium gelagat tidak beres dari laki-laki ini besok akan melakukan penyelidikan atas tindakan penimbunan minyak tanah. Aku dan koper ini digunakan untuk menyogok mereka, agar mereka diam!

“Apa kau pikir aku punya pilihan untuk menjadi uang yang hina? Tidak! Ketahuilah bahwa orang yang menggunakan uang untuk hal-hal yang tidak baiklah yang hina. Manusia tidak pernah menganggap ini sebagai sesuatu yang penting. Mereka tidak pernah menggunakan akal mereka! Mereka seharusnya menggunakan uang untuk melakukan hal yang benar, itulah kenapa diciptakan uang. Untuk memudahkan manusia dalam melakukan jual beli dan pertukaran. Namun sepertinya dunia ini sudah terlalu lapuk sampai kebajikan dan kejahatan telah tercampur sempurna.”

Ia mengatakan itu dengan tatapan benci. Aku hanya melongo mendengarkan pidatonya yang berapi-api. “Kau tahu, aku tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk menghapus bau tengik ini. Manusia jarang sekali menggunakanku untuk amal, bisa dihitung dengan jari. Itupun karena pamrih, politik uang berkedok amal. Menjijikkan. Sisanya transaksi biasa, ada yang halal dan haram. Lebih banyak yang haram seingatku, karena uang sepertiku paling sering berada di tempat maksiat. Bagi manusia, aku terlalu berharga untuk dimasukkan ke dalam kotak amal, menyantuni anak yatim dan membantu fakir miskin.

Besyukurlah engkau, Pattimura. Nilaimu memang tidak seberapa dibandingkan denganku. Tapi ketahuilah bahwa Tuhan masih memberikan jalan bagimu untuk kembali harum mewangi. Aku sungguh berharap mendapat kesempatan itu”, ia menghentikan kata-katanya. Aku hanya bisa mengangguk pelan. 

######
Epilog
Di luar masih hujan deras ketika Ibu meneleponku. Dering telepon membangunkanku dari tidurku dan membuyarkan mimpiku. Ibu menanyakan keaadaanku. Sepertinya Ibu khawatir karena akhir-akhir ini cuaca di Solo sedang sangat buruk. Televisi membuat Ibu tahu. Aku katakan padanya bahwa diriku baik-baik saja walaupun cuaca di sini sedang hujan deras.

Setelah menutup telepon aku celingukan karena buku dan diktat kuliahku berserakan di kasur. Aku mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Ah ya tadi aku ketiduran setelah zuhur ketika sedang belajar dasar-dasar ilmu bioproses. Aku melamun dan kemudian mengambil uang seribu yang nyempil di belakang kasur. Kumal sekali. Aku tatap uang itu dan Kapitan Pattimura sempurna membuatku tertidur.

Aku mencari kemana gerangan uang itu. Ternyata tergeletak di atas perutku yang masih berbaring. Kuambil uang itu dan kuperhatikan lagi. Tangannya tetap tegar memegang pedangnya. Aku masih sangat ingat apa yang terjadi dalam mimpiku. Pattimura bercerita, ya, nyata sekali. Seolah-olah dia benar-benar “berbicara” dan aku merasakan apa yang ia “rasakan”. Kulihat jam dinding, jam setengah tiga. 

Aku membuka laci dan mencari uang terbesar yang ada di sana. Aku mengambilnya. Kuambil payung di samping lemariku. Aku membuka pintu kamar kosku. Setengah berlari aku menyusuri hujan. (del)

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)