Asprak Stress -___-

"Yak pertanyaan terakhir, pertanyaan bonus. Berapa nomor angkot jurusan kampus dalam?"
- Asisten Praktikum Sosiologi Umum Q11

Pertanyaan sialan ini diberikan saat kuis mendadak, Kamis, 8 September 2011. Apa yang membuatnya begitu sialan? Hampir semua mahasiswa IPB tahu bahwa jurusan kampus dalam GA ADA NOMORNYA!milkysmile
Atau kalaupun ada, kayaknya hampir 98% mahasiswa IPB ga ada yang tau dehPhotobucket 

POSTED IN
DISCUSSION 1 Comment

Penyakit Anak Jabodetabek di IPB

"ooooh,soalnya **** minggu ini jumat bener2 kosong.. song.. pengen pulang dari kamis"
-Anak-bogor-yang-setia-pulang-tiap-minggu - Dept. Teknologi Industri Pertanian IPB 2011 *nama disamarkan 


Inilah dia penyakit utama anak Jabodetabek di IPB. Sebab kenapa selalu susah bikin janji di akhir minggu. Alasan utama kenapa Jabodetabek engga pernah bener OMDA-nya : bawaannya pengen pulang melulu!Photobucket
Saya juga anak Jabodetabek sih, pengen pulang juga tapi engga kayak gini juga kayaknya Photobucket  

POSTED IN ,
DISCUSSION 0 Comments

Mbak, kok Suaranya Gitu? =,="

4 September 2011, hari yang cerah ceria semua terlihat begitu indah, matahari menebarkan senyum terbaiknya kepada dunia,milkysmile tapi ternyata sungguh tak dinyana kapan tragedi akan menimpa kita saudara-saudara.


Tadi pagi saya pergi ke Plaza Pondok Gede, mau nyetor duit tambahan buat depo pulsa (oh iya saya jualan pulsa loooh, kalo mau pesan silahkan message/wall FB :D) di BNI di plaza dalam. Dalam perjalanan ke BNI, ada mbak-mbak gitu saya juga engga engeh sih mukanya gimana, karena pandangan saya lurus ke depan (asek) tapi yang pasti rambutnya panjang gitu


TIBA-TIBA (huruf gede biar agak dramatis) si mbak itu ngasih flyer tentang krim bangkoang sambil megang samplenya, sambil jalan dia menahan tangan saya, ngebuka tutup krim. Saya agak reflek ngejauhin tangan, lalu…

Mbak : “Bentar mas, coba dulu” *dengan suara kuli pabrik
What the fun??  Jadi elo amphibi?? PhotobucketOH GODPhotobucket. Saya langsung ngacir sengacir-ngacirnya sambil ngelepas flyer di tangan saya.

Selesai dari BNI, saya berjanji untuk pulang melalui jalan lain.milkysmile 

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Selaksa Cerita dari Kapitan Pattimura

Baru kali ini nge-post cerpen (lagi), alasannya satu : malumilkysmile 
Tapi kalo malu terus kapan majunya? Cerpen ini pernah saya kirim untuk lomba menulis cerpen di Rohis 14, cuma sampai sekarang engga jelas hasilnya gimana T,T Kritik dan saran saya tunggu, selamat menikmati :)

Matahari sudah terbenam 2 jam yang lalu namun kegiatan jual-beli masih berlangsung di pasar ini. Kurang tepat disebut ‘masih berlangsung’ karena kenyataannya pasar ini baru memulai kegiatannya jam 5 sore. Bau ikan, kerang hijau, tiram, sayuran busuk, asap knalpot bis dan motor menambah semarak pasar malam ini. Temaram cahaya lampu bohlam murahan menerangi setiap sudut los, berwarna kuning metafora kemiskinan.

“Maaf pak, ada uang 500-an?”, tanya Pardi, majikanku dua hari terakhir kepada seorang laki-laki bertubuh gempal di hadapannya. Laki-laki itu menyampirkan bungkusan ikan yang baru ia beli ke tangan kirinya, lalu dengan wajah sebal mengambil dompetnya dan menyerahkan uang logam 500. Pardi mengambilnya dan menyerahkanku pada laki-laki itu.
######

Pardi adalah laki-laki yang baik. Dua hari aku berada di tas pinggangnya, aku banyak bertemu uang-uang lain, silih berganti. Dari mereka, aku mendapatkan kenyataan bahwa Pardi pantang melakukan transaksi haram. Kalian bingung kenapa kami para uang bisa mengetahui hal itu? Karena uang hasil transaksi haram berbeda, baunya amis, lebih amis dari pasar ikan dan seisinya. Tak kutemukan uang seperti itu dalam tas pinggang Pardi.

Meskipun miskin, Pardi tetap menyisihkan sebagian hartanya untuk orang yang lebih miskin. Teman-temanku yang bergambar Tuanku Imam Bonjol selalu dimasukkan ke dalam kotak amal setiap subuh. Maka uang seperti itu harum mewangi karena digunakan untuk menegakkan kebajikan. Uang untuk amal menebarkan wangi yang mampu menghilangkan bau amis uang haram. 

Namun uang untuk amal yang ikhlas jauh lebih wangi dari apapun, lebih wangi dibanding bunga kesturi dan kebunnya. Kami yang tersisa di dalam tas pinggang hanya bisa iri. 

######

Laki-laki itu langsung meremasku dengan kasar dan menaruhku di dalam kantong celananya segera setelah Pardi menyerahkanku pada laki-laki itu. Ah pindah majikan lagi. Tidak ada uang lain di kantongnya, tapi samar-samar kucium bau amis. Aku meyakini dua hal yang pasti. Yang pertama pastilah uang haram pernah mampir di kantongnya. Yang kedua, dari caranya meremasku jelas ia adalah laki-laki yang tidak bisa menghargai uang 1000.

######

Laki-laki itu melemparkanku ke sebuah meja yang sangat berantakan. Di meja itu tergeletak sebuah koper besar dan disampingnya terdapat banyak sekali uang! Bertumpuk-tumpuk! Berwarna merah dan berkilat-kilat. Gagah betul dan banyak angka nol nya. Tak pernah kulihat uang seperti itu sepanjang perjalananku. Terdapat dua figur laki-laki karismatik di lembaran uangnya. Sepersekian detik berikutnya, kucium bau amis yang sangat kukenal. 
Parah betul bau ini, tak terlukiskan. Amis sampai tengik. Setelah beberapa saat kutengok kanan kiri dan tak kutemukan uang lain selain uang merah itu, dapatlah kupastikan bau itu berasal darinya.

“Berhenti memandangku seperti itu, uang rendahan”, ujarnya tiba-tiba. Sepertinya dia risih dengan tatapan mataku. “Apa maksudmu dengan uang rendahan? Setidaknya meskipun nilaiku tak seberapa dibandingkan nilaimu, sadarilah bahwa dirimu sumber bau tengik itu!” aku menggertaknya balik. Ia menghela nafas panjang. “Maafkan aku Pattimura, tak sepantasnya aku menghardikmu demikian”, jawabnya. Kami terdiam untuk beberapa saat. 

“Kau tahu untuk apa koper yang ada di meja ini?”, tanyanya kepadaku. “Tidak, dan itu bukan urusanku”, jawabku ketus. Ia tersenyum getir mendengar jawabanku. “Pemilik koper ini, laki-laki gempal yang tadi meremasmu adalah biang segala dosa.” Ia muntab, marah. 

“Pekerjaannya tetapnya adalah lintah darat dan tukang ijon! Pekerjaan sampingannya tukang timbun minyak tanah, membeli ketika harga murah, menyimpannya di halaman belakang rumah dan menjualnya dengan harga selangit ketika langka. Pemerintah kabupaten yang mencium gelagat tidak beres dari laki-laki ini besok akan melakukan penyelidikan atas tindakan penimbunan minyak tanah. Aku dan koper ini digunakan untuk menyogok mereka, agar mereka diam!

“Apa kau pikir aku punya pilihan untuk menjadi uang yang hina? Tidak! Ketahuilah bahwa orang yang menggunakan uang untuk hal-hal yang tidak baiklah yang hina. Manusia tidak pernah menganggap ini sebagai sesuatu yang penting. Mereka tidak pernah menggunakan akal mereka! Mereka seharusnya menggunakan uang untuk melakukan hal yang benar, itulah kenapa diciptakan uang. Untuk memudahkan manusia dalam melakukan jual beli dan pertukaran. Namun sepertinya dunia ini sudah terlalu lapuk sampai kebajikan dan kejahatan telah tercampur sempurna.”

Ia mengatakan itu dengan tatapan benci. Aku hanya melongo mendengarkan pidatonya yang berapi-api. “Kau tahu, aku tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk menghapus bau tengik ini. Manusia jarang sekali menggunakanku untuk amal, bisa dihitung dengan jari. Itupun karena pamrih, politik uang berkedok amal. Menjijikkan. Sisanya transaksi biasa, ada yang halal dan haram. Lebih banyak yang haram seingatku, karena uang sepertiku paling sering berada di tempat maksiat. Bagi manusia, aku terlalu berharga untuk dimasukkan ke dalam kotak amal, menyantuni anak yatim dan membantu fakir miskin.

Besyukurlah engkau, Pattimura. Nilaimu memang tidak seberapa dibandingkan denganku. Tapi ketahuilah bahwa Tuhan masih memberikan jalan bagimu untuk kembali harum mewangi. Aku sungguh berharap mendapat kesempatan itu”, ia menghentikan kata-katanya. Aku hanya bisa mengangguk pelan. 

######
Epilog
Di luar masih hujan deras ketika Ibu meneleponku. Dering telepon membangunkanku dari tidurku dan membuyarkan mimpiku. Ibu menanyakan keaadaanku. Sepertinya Ibu khawatir karena akhir-akhir ini cuaca di Solo sedang sangat buruk. Televisi membuat Ibu tahu. Aku katakan padanya bahwa diriku baik-baik saja walaupun cuaca di sini sedang hujan deras.

Setelah menutup telepon aku celingukan karena buku dan diktat kuliahku berserakan di kasur. Aku mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Ah ya tadi aku ketiduran setelah zuhur ketika sedang belajar dasar-dasar ilmu bioproses. Aku melamun dan kemudian mengambil uang seribu yang nyempil di belakang kasur. Kumal sekali. Aku tatap uang itu dan Kapitan Pattimura sempurna membuatku tertidur.

Aku mencari kemana gerangan uang itu. Ternyata tergeletak di atas perutku yang masih berbaring. Kuambil uang itu dan kuperhatikan lagi. Tangannya tetap tegar memegang pedangnya. Aku masih sangat ingat apa yang terjadi dalam mimpiku. Pattimura bercerita, ya, nyata sekali. Seolah-olah dia benar-benar “berbicara” dan aku merasakan apa yang ia “rasakan”. Kulihat jam dinding, jam setengah tiga. 

Aku membuka laci dan mencari uang terbesar yang ada di sana. Aku mengambilnya. Kuambil payung di samping lemariku. Aku membuka pintu kamar kosku. Setengah berlari aku menyusuri hujan. (del)

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Ayo Belajar!

  
"Wahai anak muda, jika engkau tidak sanggup menahan lelahnya belajar, engkau harus menanggung pahitnya kebodohan" - Phytagoras 

Pesan sederhana dari filsuf Yunani untuk kita, pelajar dan mahasiswa Indonesia :)

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Ketika Oncom dan Pete Punya Barcode

Sebenarnya kejadian ini udah cukup lama, tapi baru kesampaian di post sekarang. Gambar ini diambil pada tanggal 23 Juli 2011, di sebuah swalayan di kawasan Pondok Gede. 
pete dan oncom sedang bersantai di bawah guyuran AC
Entah apa karena dunia yang sudah kelewat modern apa saya yang kurang pergaulan? Seumur-umur baru kali ini saya liat pete dan oncom ada barcodenya dan dijual di swalayan ber-AC. Bukan apa-apa, tapi saya selalu berpikir jenis makanan seperti ini semacam pengejawantahan, pembeda antara umat “susah” dan umat “senang”

Tapi ternyata mindset saya selama ini salah. Oncom dan pete tidak hanya milik umat “susah”

Makanan tidak hanya sebagai kebutuhan umat manusia, pemenuh nutrisi saja. Di era sekarang, makanan juga menjadi cerminan budaya masyarakatnya. Bahkan ada cabang ilmu khusus yang mempelajari tentang hubungan kuliner suatu bangsa dengan budaya setempat, cabang ilmu itu bernama Gastronomi (klik untuk melihat lebih lengkap apa itu gastronomi)

Masuknya pete dan oncom ke dalam jajaran “makanan swalayan” menandakan bahwa kedua makanan ini telah berhasil “naik kelas”. Berhasil merasuk ke dalam budaya masyarakat kelas atas. Padahal beberapa tahun yang lalu masih bertengger dengan manis di gerobak sayur, keliling ke kampung, dikerubungi ibu-ibu.

Kini kita tinggal menunggu kapan waktunya kedua makanan ini terhidang di meja makan restoran hotel bintang lima. Anda percaya? 

Percaya saja lah, para tukang sayur 20 tahun yang lalu juga tidak pernah berpikiran dagangan mereka sekarang duduk manis di bawah guyuran AC :D

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Dirgahayu Institut Pertanian Bogor!

"Kalau bukan kalian yang cinta dengan almamater kalian, siapa lagi? Ketika kalian tidak menghargai almamater kalian sendiri, orang lain akan lebih mudah menginjak-injak martabat kampus ini!"
-Ibu xxxx, Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor
1 September 1963 - 1 September 2011
Karena lebih dari 48 tahun yang lalu, ketika masih bernama Fakulteit Pertanian Universitas Indonesia, engkaulah almamater harapan bangsa dalam memenuhi keutuhan pertanian dan pangan negara.
Karena sejak 48 tahun yang lalu, engkau telah melahirkan putra-putri terbaik bangsa yang turut serta mengawal perjalanan bangsa ini.
Selamat ulang tahun ke-48, IPB :) tetaplah melahirkan orang-orang terbaik untuk kemaslahatan umat manusia! 

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Selamat Idul Fitri 1432 H

Taqobalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum ja'alanallahu minal aidin wal faidzin :) Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H. Mohon maaf lahir dan Batin :) 

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)