Menulis Untuk Keabadian

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
— Pramoedya Ananta Toer

Tadi baru nemu kata-kata ini di markas blogger jaman dulu abis, AyoNgeblog.com (dan ternyata posting terakhir AyoNgeblog tercatat Juli 2010, ya ampun lama nian). Sekilas tentang AyoNgeblog, situs ini pada tahun 2008 lalu adalah situs yang mengampanyekan jumlah satu juta blogger di Indonesia (entah kesampean apa engga targetnya)milkysmile

Artikelnya berjudul ngeBlog Adalah Bekerja untuk Keabadian. Isinya singkat, padat dan maksud yang ingin diutarakan benar-benar jelas.

Intinya dalam artikel itu, penulis ingin mengatakan kepada semua orang yang aktif di dunia web log untuk tetap menulis karena tulisan mereka akan “abadi” sampai kapanpun.

Inilah yang saya maksud di postingan terdahulu yang berjudul Alih Fungsi!, di akhir postingan saya menulis :
Gajah mati meninggalkan gadingnya. Kalau manusia yang mati?
Mereka mati meninggalkan budi baiknya dan jejak yang ditulisnya

Agak berlebihan kalau kita sebut abadi, toh dunia ini fana kan? Tapi yang dimaksud “abadi” dalam artikel itu bukan berarti selama-lamanya.

Artinya adalah meskipun orang yang menulisnya sudah matipun, tulisannya tetap tersimpan rapi di dalam blognya. Atau kalaupun blognya sudah dihapus dan hilang tiba-tiba karena tidak pernah diurus, paling tidak beberapa jejak tulisannya masih diindex oleh Google.

Inilah kemudahan di era yang serba cyber. Kalau pada jaman engkong kita masih hidup tulisan yang terkenang hanya berasal dari para professor, penyair, penulis ataupun insinyur yang sepuh dan mumpuni dalam bidangnya, jaman sekarang sudah berubah. Tulisan anak SMP, SMA, mahasiswa amatiran, bahkan tukang parkirpun (ada ngga ya tukang parkir yang ngeblog?) tetap terindex dalam Google.

Banyak sekali hal yang terjadi dalam hidup ini, dan tulisan adalah salah satu media penyimpan memoar kita yang cukup baik. Karena dengan menulis kita mengolah kembali informasi yang kita dapat dan menuangkannya ke dalam bahasa yang kita sepakati. Menulis juga bisa menjadi terapi yang baik untuk menghilangkan rasa stress dan tegang, seperti contoh inimilkysmile


Pak Pram dalam kutipan di atas secara tersirat mengajak kita, generasi muda yang akan menggantikan generasi-tua-bapuk-bau-tanah untuk segera memulai menulis, beriringan dengan pekerjaan utama kita sebagai penuntut ilmu. Tunggu apa lagi? Apa kalian mau menunggu sampai pena di ujung meja mengering? Photobucket

POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)