2016: My Life in A Nutshell

Hampir setahun blog ini tidak pernah diupdate. Dorman lama banget. Tahun lalu aja postnya cuma 2 biji. In term of blogging, last year was the most unproductive year so far. Alasannya utamanya klasik, ndak ada waktu. Sekalinya ada waktu senggang sedikit, udah ndak ada tenaga. Udah ndak ada semangat nulis apa-apa.

Sekarang sedang mulai ingin rutin nge-blog lagi. Terapi meracau di halaman sendiri ini sebenarnya cukup menyenangkan dan bermanfaat untuk menjaga agar tetap waras di dunia nyata. Post ini supposed to be pembayaran hutang atas betapa tidak produktifnya pengisian blog ini tahun lalu. Supaya anak-cucu gue tetap bisa tau, ngapain aja orang tuanya ini di tahun 2016.
~~

Ibarat chapter buku, 2016 adalah permulaan dari salah satu chapter yang cukup penting dalam hidup gue: karier. Setelah diberi keputusan untuk lulus dari IPB di Q4 2015 dan dilepas saat wisuda Januari 2015, alhamdulillah Allah langsung memberikan jalan untuk gue mengabdi di salah satu institusi umat: Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika MUI (LPPOM MUI)
Delmar Zakaria Firdaus, STP dan keluarga :)

Dan ada banyak banget orang yang tidak bisa membedakan antara LPPOM dengan BPOM. Dulu zaman gue di kampus, orang-orang juga gak bisa membedakan antara IPB dan ITB. Dibilangnya IPB di Bandung. Hidup gue penuh dengan mispersepsi orang lain.

Logo BPOM (kiri) dan logo LPPOM MUI (kanan). Sering orang tertukar karena secara verbal sama-sama ada akhiran POM-nya

In a nutshell, BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) adalah lembaga pemerintah, berada langsung di bawah presiden dengan tupoksi pengawasan terhadap peredaran obat dan makanan di Indonesia. sementara LPPOM (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-batan dan Kosmetika) adalah lembaga non-pemerintah, ada di bawah MUI dengan tupoksi sertifikasi produk halal. Meski beda, kedua lembaga ini tetap bekerja sama terkait dengan izin pelabelan halal yang hanya bisa dikeluarkan oleh BPOM.

Tugas gue di LPPOM adalah sebagai Staf Auditor Tetap. Double job sebagai staf harian LPPOM MUI dan juga sebagai auditor halal LPPOM MUI. Sehari-hari ngantor sebagai staf harian dan dalam beberapa hari di setiap pekan ditugaskan untuk audit ke perusahaan.

Staf harian ndak perlu diceritakan lah ya. Usual stuff. Audit halal ini yang menarik untuk diceritakan. Coba dijelaskan dari awal deh ya, biar nyambungnya enak.

MUI menugaskan dua lembaga dalam melaksanakan proses sertifikasi halal, yakni LPPOM MUI dan Komisi Fatwa (KF). Kedua lembaga ini memiliki latar belakang personil yang berbeda. Komisi Fatwa (KF) MUI berisikan para kiai dan ulama syariah, sementara LPPOM MUI berisikan ilmuwan dan insinyur yang berhubungan dengan keilmuan terkait POM (pangan, obat dan kosmetika)

Dua lembaga ini ditugaskan karena halal adalah perpaduan antara syariah dan sains. Batasan-batasan antara halal dan tidak halal diberikan oleh ulama syariah berdasarkan Al-Quran dan hadits, dan diterjemahkan secara teknis dalam batasan angka dan variabel tertentu. Pun sebaliknya, ulama syariah akan mendengarkan persaksian dari ilmuwan sebagai basis untuk menentukan status kehalalan dari sesuatu hal. 

Contohnya adalah mengenai penentuan status kehalalan kepiting, yang diputuskan dengan juga memperhatikan pendapat ahli perikanan dari FPIK IPB (lihat dokumen fatwa kepiting MUI di halaman ini)
Fatwa kehalalan kepiting, perpaduan antara sisi syariah dan sisi ilmiah

Scientific assessment inilah yang menjadi tugas dari seorang auditor halal, untuk kemudian diterjemahkan menjadi sesuatu yang lebih mudah dimengerti oleh Komisi Fatwa dalam memutuskan status kehalalan produk. Misalkan pada produksi MSG (micin) melalui proses mikrobial, tentu bukan hal yang sederhana untuk dipahami oleh awam, sehingga proses tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa yang lebih sederhana dan dengan menggunakan fatwa-fatwa yang sudah dikeluarkan terdahulu, ditentukan di mana letak titik kritis kehalalan produk tersebut.


Simplified flowchart dari pembuatan micin. Walau kabarnya micin bikin bego, percayalah yang bikin micin bukan orang bego. Susah bos bikinnya.

Karena bertugas sebagai saksi ulama, maka auditor halal secara praktik melakukan pengumpulan data dan observasi lapang. Mulai dari data bahan yang mereka gunakan, formula produk dan berbagai data perusahaan lainnya yang mayoritas bersifat confidential. Auditor apapun sepertinya sih sama ya, berhubungan dengan banyak rahasia perusahaan.

Pekerjaan ini benar-benar menyenangkan. Ilmunya banyak banget. Setiap kali audit dapat ilmu baru, dan dalam beberapa kasus tertentu bahkan bersentuhan langsung dengan aplikasi teknologi yang paling mutakhir di industri. Ndak cuma ilmu sains, kita juga belajar how to deal with people dalam kerangka teknik audit. Gimana caranya supaya auditee tenang, kalem, tidak bersikap defensif, dan terbuka dengan auditornya. Gimana caranya mengendus jika auditee bohong, hingga mendeteksi dokumen palsu.

Sejauh ini gue sama sekali gak ada niatan untuk berhenti dari pekerjaan ini. Dulu gue pernah denger ada beberapa kriteria pekerjaan idaman, antara lain membuka kesempatan untuk belajar, membuka kesempatan untuk ibadah, dan membuka kesempatan membangun jaringan. Semuanya alhamdulillah ada di pekerjaan yang gue kerjakan saat ini. Alhamdulillah :)

Hal lain yang gue baru rasakan ketika mengabdi di LPPOM adalah mengenai sorotan media. Ini adalah kali pertama gue berada di sebuah institusi yang sering banget jadi sorotan media, dan sorotan hoax. Isu halal ini sensitif banget di Indonesia, bahkan kalau dilihat dari sejarahnya, LPPOM memang didirikan untuk meredam isu lemak babi di tahun 1989. 

Cerita mengenai sorotan media dan hoax ini akan coba gue tuliskan di kesempatan berikutnya. Soalnya banyak banget :p
~~

Selain karir, rasanya ndak banyak yang bisa gue ceritakan mengenai hidup sepanjang tahun 2016. Karena memang inilah chapter utama yang benar-benar baru dijalani di tahun lalu. 

Misi yang lain selain karir di tahun lalu adalah menyeimbangkan hidup. Seimbang antara fisik, rohani, dan keilmuan, yang sepatutnya menjadi misi seumur hidup. Olahraga, ngaji, baca buku, dan belajar ilmu-ilmu lainnya. Sekalian persiapan studi master yang sampai sekarang masih entah kapan mau diambil. Semoga sibuk bekerja tidak menjadikan kita orang yang enggan dalam melanjutkan studi.

Dan semoga di tahun 2017 ini terbuka chapter baru lainnya: bangun rumah tangga :)

POSTED IN , ,
DISCUSSION 1 Comment

Cuih!

Malam itu, entah berapa tahun yang lalu, saya naik sepeda ke depan kompleks. Entah untuk keperluan apa, antara fotokopi atau beli nasi goreng buat cemilan malam. Lupa, udah lama banget soalnya. Yang pasti masih masa-masa sekolah sih. Mungkin sekitar kelas X SMA. Udah lama banget kan.

Tapi ada satu hal yang sampai sekarang gak akan pernah terlupa terjadi di malam yang sama.

Karena malam itu sedang cerah, saya santai aja sepedaannya. Tralala trilili hepi hepi minggir kiri. Menjelang keluar kompleks, ada mobil parkir di pinggir jalan. Pintu depannya setengah terbuka. Alhasil gak bisa minggir kiri lagi, ambil agak ke tengah buat menghindari mobil plus pintunya yang setengah terbuka.

Persis sejajar di pintu yang terbuka, ada bunyi “cuh!” yang keras, dan di saat yang sama sandal dan kaki kiri saya basah. OH! Orang yang sedang di dalam mobil ternyata meludah, dan sialnya tepat di kaki saya yang sedang mengayuh sepeda. Dan ludahnya banyak banget, sampe basah sepunggung kaki.

Dari berbagai probabilitas sudut, arah, dan waktu meludah, kok ya bisa-bisanya pas kena di kaki orang yang sedang lewat dan ngayuh pedal sepeda. Antara murni ketidaksengajaan atau memang dia seorang professional spitter.

~~~

Meludah sembarangan buat banyak orang di Indonesia kok sepele aja rasanya. Cuah cuih sana sini. Tapi buat saya enggak. Sama sekali enggak. Meludah sembarangan buat saya adalah bentuk pengkhianatan terhadap estetika. Buih-buih putih dan basah di tengah jalan selalu sukses bikin saya mual. Apalagi dengan bonus lendir kekuningan.

Nulis ini aja bawaannya mual. Maaf kalau kamu ikutan mual.

Khusnudzan-nya saya, orang yang meludah sembarangan ini musababnya karena sudah mendesak sekali. Tenggorok dan mulutnya sudah berahi hebat dan (merasa) harus segera dibuang. Ini ngira-ngira doang sebenernya, karena saya sejujurnya jarang banget merasa terdesak untuk meludah atau mengeluarkan lendir. Gak pernah merasa terdesak untuk membuang (ludah) di tempat umum.

Lagian malu gak sih cuah cuih di depan orang lain. Saya sih malu.

“Lu juga kan nelen ludah mar tiap hari, sewot banget sama orang yang ngeludah.”

Here’s the thing. Ludah yang dikeluarkan itu tidak pernah sama lagi dari ludah yang ada di mulut. Ludah yang keluar itu sudah jadi sampah. Kalau kamu beranggapan ludah yang kamu buang sama dengan yang ada di mulut kamu, coba kamu jilat lagi itu ludah di bawah. Mau?

Jelas gak ada yang mau. Artinya, deep down kita sama-sama sepakat bahwa ludah yang sudah dikeluarkan itu menjijikkan. Kenapa masih aja ngeludah sembarangan?

*sedangkesal

POSTED IN
DISCUSSION 1 Comment

Loyal

Selasa sore di minggu kedua bulan puasa kemarin, saya pulang dari tugas audit halal di salah satu perusahaan yang lokasinya berada di kompleks bandara Soekarno Hatta. Persis di pinggir runway sampai-sampai badan pesawat yang sedang lalu lalang taxi terlihat begitu dekat.

Sesudah masuk ke dalam mobil perusahaan yang akan mengantar kami pulang ke Bogor, tiba-tiba manajer yang mendampingi kami audit tergopoh-gopoh mengetuk bagian belakang mobil, memberikan kode untuk berhenti. Mungkin ada sesuatu yang ketinggalan, pikir kami.

Tapi bukan. Tidak ada yang ketinggalan. Ternyata ada seorang pegawai yang mau ikut tumpangan karena rumahnya searah dengan tujuan kami di Bogor. “Bapak ini rumahnya di Bogor, sekalian ikut rombongan MUI saja,” kata manajer tersebut.

Di awal perjalanan kami mengobrol singkat. Namanya Pak Agus, rumahnya di Ciomas. Pulang pergi Bogor-bandara setiap hari. Obrolan kami sebentar saja karena rasanya kami sama-sama sungkan buka topik pembicaraan panjang lebar mengingat sore di bulan puasa, apalagi sepulang bekerja.

Kami baru mengobrol cukup banyak setelah azan maghrib, saat itu posisinya sudah masuk wilayah Bogor. Baru kami tahu bahwa Pak Agus sudah mengabdikan dirinya lebih dari 30 tahun di perusahaan yang sama dan bulan Agustus ini akan ‘wisuda’, istilah internal perusahaan untuk masa pensiun.
~~~

Ada sesuatu yang membekas di benak saya dalam momen obrolan singkat dengan Pak Agus di mobil petang itu. Kesetiaan selama 30 tahun bekerja di tempat yang sama ‘mengganggu’ pikiran saya yang baru 6 bulan merasakan dunia kerja. Apalagi dengan kabar-kabar dari teman seangkatan yang beberapa kali pindah kerja dalam kurun kurang dari satu tahun.

Masa bakti Pak Agus sampai saat saya menulis ini lebih lama dibandingkan seumur hidup saya yang baru 22 tahun.

Dalam pikiran saya, bisa jadi passion Pak Agus memang ada di sana. Tapi setelah dipikir-pikir, apa ada orang yang passionnya menjadi analis lab QC? Bisa jadi ada. Tapi kok saya kurang sreg. Saya paham sekali job description QC lab, berhadapan dengan produk sampel setiap harinya berulang kali melakukan uji mutu yang sama. Apa iya ada yang passion untuk hal seperti ini?

Atau bisa jadi juga Pak Agus tipe orang yang main aman. Bermain di comfort zone sepanjang hidupnya. Tapi kok gak sreg juga buat saya. Rumahnya ada di Ciomas, kerjanya di kompleks Bandara. Setiap hari naik motor ke stasiun Bogor, turun di stasiun Cawang, lanjut naik bis ke bandara. Setiap harinya, pulang pergi dengan pola yang sama. Perusahaan tempat dia bekerja juga sedikit sekali liburnya, karena berurusan dengan hajat hidup orang banyak. Tidak ada libur total, liburnya sedikit dan gantian setiap hari raya agama lain. Peak season pada jenis industri ini justru terjadi setiap musim liburan, termasuk lebaran. Apanya yang aman dan nyaman dengan situasi kerja seperti ini?

Logika anak bau kencur di dunia kerja kayak saya gak bisa mencerna alasan kenapa seseorang bisa begitu loyalnya, walaupun ada banyak sekali alasan untuk merasa tidak nyaman. Oh atau bisa jadi rasa cinta sama keluarga yang jadi motivasinya? Entahlah. Sampai kami pisah jalan saya gak nanya ini langsung ke beliau. Antara waktu percakapan yang memang singkat dan agak sungkan juga sebenarnya nanya hal seperti ini.

Untuk alasan apapun Pak Agus bertahan, harus diakui bahwa loyalitas dan daya tahan beliau jempolan.

Sebenarnya pengabdian 30 tahun sama sekali bukan barang aneh (pengecualian buat jenjang karir PNS dan militer, karena pengabdian sampai pensiun adalah hal yang UMUM). Sosok loyal seperti Pak Agus ini ada banyak di perusahaan-perusahaan yang lain. Tapi tidak akan terekspos ke luar. Kecuali sebagai pimpinan tinggi atau memiliki posisi strategis di perusahaan, orang-orang loyal seperti ini rasanya jarang menjadi pilihan untuk diundang berbicara di seminar karir. Mereka setia di belakang layar. Kolega menaruh hormat pada mereka, tapi cerita tentang mereka tidak akan sebenderang petualang karir yang lain.

Padahal bisa jadi nilai loyalitas dan endurance ini yang perlu diajarkan buat anak-anak nakal bau kencur macam saya. Supaya gak cengeng dan gak manja.

Sepanjang ingatan saya, seminar karir yang ada di kampus banyak mengajarkan dengan kata kunci follow your passion, menyukai tantangan, dan keyword adventurous lainnya. Di sisi lain sebenarnya banyak posisi pekerjaan yang mau tidak mau harus mengerjakan sesuatu yang sifatnya repetitif, terutama di industri. Keyword loyalitas rasanya jarang sekali dibahas. Padahal sebenarnya yang benar-benar ada di balik sendi perusahaan adalah orang-orang loyal ini.

Q: Mar, gue gak mau loyal sama perusahaan. Hidup ya buat gue bukan buat perusahaan. Gue gak mau kerja lama-lama karena visi gue beberapa tahun ke depan adalah jadi direktur buat perusahaan gue sendiri. Jadi buat apa gue loyal?
A: Loyal atau gak loyal itu pilihan lo. Tapi lo butuh tau bagaimana cara orang loyal berpikir, supaya bisa mencari tau gimana caranya bikin orang loyal sama lo.

Baru keingetan, diskusi tentang loyalitas ini pernah dibahas sama Simon Sinek di TED 2014. Bahasannya bagus banget. Bisa jadi alasan-alasan ini yang bikin Pak Agus dan kolega loyal lainnya mau bertahan.
~~~

“Saya juga gak sadar kok tau-tau udah 30 tahun aja saya kerja. Rasanya seperti baru kemarin. Tugas saya setelah ini tinggal momong cucu,” kata Pak Agus.

Sampai di Jalan Merdeka, saya turun duluan. Sambil bersalaman pamit dengan Pak Agus, saya sampaikan ucapan tulus, “Selamat menjalani masa pensiun, Pak Agus.”

POSTED IN ,
DISCUSSION 1 Comment

Merayakan Kebingungan

Bingung adalah hal yang mengerikan. Membuat jiwa gundah, dan tak nyaman. Sejauh ini, paling tidak ada dua hal yang membuat gue merasa sangat ‘bingung’ dalam rangkaian prosesnya. Yang pertama adalah SNMPTN 2011, dan yang kedua adalah skripsi yang (alhamdulillah) baru saja selesai September lalu. Dalam kedua momen tersebut, gue merasa belajar banyak dalam prosesnya, terutama dalam memaknai kebingungan, yang selama ini ditakuti banyak orang.

Bahwa di dalam bingung, bisa jadi, ada pelajaran yang sangat berharga dan perlu dirayakan keberadaannya. Dan bisa jadi, kita selama ini salah paham tentang konsep kebingungan. 

~~~
Late disclaimer. Ini murni blabbering, iseng, dan dalam beberapa hal, bisa jadi, tak berdasar ilmiah. Sepakat tidak sepakat, read for your own risk :)

Ada banyak hal yang membuat kita merasa bingung. Bingung dalam mengerjakan soal kalkulus, atau bahkan bingung dalam menentukan pilihan dalam hidup. Pilihan hidup remeh dan dangkal macam memilih baju yang dipakai untuk kondangan hari ini, atau pilihan hidup jangka panjang seperti jurusan kuliah ataupun career path yang akan dilalui pasca kampus.

Menurut gue, ada beberapa misconception tentang “bingung”. Misconception yang pertama adalah tentang pemaknaan kata “bingung”. Kesannya gelap sekali. Bahkan KBBI mendeskripsikannya dengan sangat menyedihkan.
bi-ngung a 1 hilang akal (tidak tahu yang harus dilakukan), 2 tidak tahu arah (mana barat mana timur dsb), 3 gugup tidak keruan, 4 bodoh; tolol, 5 (merasa) kurang jelas 
ke-bi-ngung-an n 1 dl keadaan bingung, 2 kekacauan hati (pikiran)
Sedih banget broh. Di dalam kamus, “bingung” terdengar sangat nista.

Gue tidak bermaksud untuk merekonstruksi bahasa Indonesia karena sama sekali tidak punya kompetensi di bidang linguistik. Tapi rasanya gue tidak bisa sepakat sepenuhnya dengan rangkaian definisi KBBI.

Bagi gue, bingung adalah proses, predecessor dari jawaban.

Archimedes dibuat bingung oleh pertanyaan sang Raja yang meragukan kemurnian emas di dalam mahkotanya. Bingung setengah mati sampai memutuskan berendam, dan tetiba menemukan solusi masalahnya dan lari telanjang saking senangnya. Alan Turing dan tim kebingungan dalam memecahkan sandi Enigma milik Nazi sampai akhirnya sampai pada solusi enkripsi yang benar.

Dengan pemaknaan ini, “bingung” dapat terangkat sedikit martabatnya. Bahwa ia adalah awal mula dari jawaban dan pilihan yang selama ini kita ambil. Dengan pemaknaan ini pula sebenarnya bisa kita pahami bahwa “bingung” adalah keniscayaan. Sesuatu yang dialami oleh semua orang, pada semua pekerjaan dan pilihan hidupnya. Termasuk kebingungan yang gue alami ketika menulis hal-hal “bingung” ini.

Q: Jika bingung adalah keniscayaan, lalu kenapa ada banyak orang yang tidak bingung?

Penjelasan tadi memang mengangkat sedikit makna “bingung”, tapi ya benar, lalu bagaimana dengan kasus orang-orang yang tidak bingung? Mario Teguh misalnya, dia terlihat tidak pernah bingung pada ribuan pertanyaan penonton setianya.

Jawabannya adalah karena “bingung” sifatnya seperti “mata kuliah”. SKSnya niscaya harus diambil, tapi terserah waktunya kapan. Mario Teguh terlihat tidak bingung dengan pertanyaan-pertanyaan audiens karena bisa jadi dia sudah bingung duluan pada kasus yang sama bertahun-tahun yang lalu. Bingung adalah proses sudah ia jalani, yang tersimpan di dalam memorinya berupa rangkaian “jawaban”, hasil dari kebingungannya yang lalu-lalu.
Om Mario sudah duluan mengambil kelas Dasar-Dasar Cinta dulu, Siap om.
Hal yang sama terjadi pada orang-orang di sekeliling kita, yang karya dan visinya sudah level langit. Gue merasa mereka juga bingung dengan kehidupannya. Tapi dia sudah bingung jauh lebih dulu dibandingkan dengan kita. Di saat “bingung” masih menjadi predecessor pada proses hidup kita, mereka sudah memetik jawaban atas kebingungannya.  

Pengalaman pada proses nyekripsi beberapa bulaan terakhir juga sama. Di akhir tahun lalu, ada beberapa orang yang sudah membingungkan proposal skripsinya, sementara di saat yang sama gue masih belum membingungkan masalah skripsi sama sekali. Baru di awal tahun giliran gue yang kebingungan memilih judul skripsi, di saat teman yang sudah selesai bingungnya mulai running penelitian. Semua ada ganjarannya.

Jadi pilihannya adalah, bingung sekarang atau bingung nanti? Your call :)

Q: Bagaimana dengan orang yang bingung berkepanjangan untuk masalah yang sama?

Well, mari kita kembali ke diagram alir bingung. Kita selami lagi dan revisi sedikit alurnya.

Sebenarnya kurang tepat juga bahwa hanya dengan bingung kita akan mendapatkan jawaban. Gak adil. Jawaban dari kebingungan kita disertai dengan syarat. Syaratnya apa saja? Berbeda-beda untuk setiap kasus. Jadi, selama all requirement belum terpenuhi, akan terjadi loop. Bingung selamanya.


Maksudnya requirement apa? Contoh sederhananya kayak gini.
kamu kuat nak...
Pada saat nyekripsi kemarin, banyak banget hal baru yang gue pelajari karena topiknya agak melenceng sedikit dari jalur mayor TIN. Salah satunya adalah AT Command yang digunakan untuk komunikasi antara Arduino dengan GSM shield. Sempat kejadian 1.5 bulan penelitian stuck karena enggan belajar dasar-dasar AT Command. Berasanya parno duluan karena asing banget sama perintahnya, dan berulang kali eksperimen gak pernah berhasil. Padahal kalau sudah tau, AT Command sama sekali tidak layak jadi penghambat skripsi. Gampang banget ternyata. Setelah itu tetiba merasa bodoh sendiri.

The point is, I was afraid to embrace my own confusion. Bisa jadi sebenarnya kita terus menerus membingungkan masalah yang sama karena selama ini kita ngumpet dan menghindar. Jadinya requirement dari jawaban kita gak akan pernah ketemu. 

Kita gak berani dan paranoid duluan. Beberapa kenalan di kampus juga mengalami hal yang lumayan serupa dalam nyekripsi, bahkan waktunya lebih lama. Takut menghadapi neraca massa, takut ganti metodologi mutakhir karena merasa susah belajar lagi, takut ganti bahan baku karena sudah terlanjur riset pengantar tentang bahan bakunya, dan segala takut yang lain yang membuat kita tidak bisa memenuhi requirement dalam menuju jawaban akhir. Yang membuat segalanya tetap dan selalu membingungkan.

Pertanyaannya, beranikah kita embrace kebingungan kita sendiri? We’re not going anywhere kalau kita selalu sembunyi. Your call :)

Q: Jadi, bagaimana caranya menghadapi bingung yang benar?

Masing-masing orang unik, punya masalah dan cara memecahkan masalah yang berbeda satu sama lain. Menghadapi kebingungan bisa jadi pertanyaan yang sangat sulit, karena gue sendiri belum paham sepenuhnya selain dengan melaksanakan alur flowchart di atas. Mungkin ini terdengar absurd, tapi ada satu pelajaran menarik yang bisa gue ambil dari pengalaman selama mengerjakan SNMPTN empat tahun yang lalu.

Soal-soal SNMPTN adalah soal prediktif untuk calon mahasiswa, yang sebenarnya tidak didesain untuk dikerjakan semuanya (walau selalu ada saja yang bisa mengerjakan hampir semuanya selama try out). SNMPTN menurut gue bukan adu kecerdasan, tapi adu kebijaksanaan. Waktunya terbatas, soalnya banyak, dan sistem benar +4 salah -1 membuat kita selalu berpikir ulang dalam menjawab.

Menghadapi kebingungan dalam hidup, menurut gue bisa jadi sebelas dua belas dengan mengerjakan soal SNMPTN. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menentukan soal mana yang benar-benar layak kita bingungkan dan sesuai dengan kemampuan kita. Soal mana yang bisa memberikan kita nilai +4 dan menghindari menjawab asal karena menimbulkan kerugian yang lebih besar.

Jadi, tips pertama dalam menghadapi kebingungan adalah dengan memastikan bahwa hal-hal yang sedang kita bingungkan benar-benar penting, memberikan nilai tambah, dan layak untuk diperjuangkan.

Pertanyaannya, kita selama ini bingung untuk masalah apa? Hal-hal penting? Atau justru hal-hal tidak penting?

~~~
Alasan utama kenapa gue menulis ini adalah karena gue merasa bingung juga menyimpan potensi membahayakan. Bingung, dalam level filosofis bisa membuat seseorang menjadi gila mendadak, dan bingung dalam level teologis bisa membuat seseorang tak percaya Tuhan dalam semalam. Dua-duanya terjadi karena membingungkan sesuatu yang tidak pada levelnya.

Juga sebagai rasa tidak setuju pada persepsi sifat “bingung” di masyarakat. Seolah-olah “bingung” adalah sesuatu yang menjijikan dan nista. Dihindari dengan berbagai macam kalimat motivasi untuk menghapus kebingungan. Padahal bisa jadi tanpa “bingung” dunia ini tidak akan pernah berubah.

Dunia ini berubah karena adanya orang bingung yang mati-matian mencari jawaban atas kebingungannya.

Akhirnya, dear kamu yang sedang bingung, jangan berkecil hati. Kita semua adalah orang-orang yang bingung. Bahwa kebingungan adalah sesuatu yang harus dirayakan, karena kita tinggal beberapa langkah lagi dari jawaban yang kita butuhkan. 

Selamat merayakan kebingungan!

POSTED IN ,
DISCUSSION 2 Comments
Sekapur Sirih Delmar

Writing is never about knowing, it is about caring and sharing :)